BAB IVPAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIANA.
Paparan Data
1.
Deskripsi Obyek Penelitiana.
Sejarah Madrasah btida’iyah
Miftahul HudaPada tanggal 01
Januari 1969 atas prakarsa beberapa tokoh desa didirikan lembaga pendidikan Islam tingkat dasar atas
nama Madrasah Ibtidaiyah yang merupakan salah satu dari bagian Lembaga
Pendidikan Ma’arif NU cabang Malang. Di antara
tokoh-tokoh pendiri dan perintis Madrasah
Ibtidaiyah Miftahul Huda dapat dilihat pada table berikut :Tabel 4.1Tokoh
Pendiri Dan Perintis Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem-Ngajum Malang
Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2013Dalam musyawarah para tokoh dan
perintis tersebut dihasilkan susunan pengurus sebagai berikut :Tabel 4.2
Pengurus Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda NgasemNgajum
Malang Tahun 1969
Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2013 Setelah terbentuk susunan pengurus,
kemudian para pendiri dan pengurus melakukan musyawarah secara bersama-sama
untuk merekrut beberapa orang yang dianggap mampu untuk menjadi tenaga pengajar
dan dengan suka rela mengabdikan diri di madrasah ini.Dari hasil perekrutan tersebut diperoleh 8 tenaga
pengajar yang sekaligus sebagai pengelola operasional madrasah dengan menunjuk
salah satu sebagai kepala madrasah, yaitu :Tabel
4.3 Tenaga Pengajar Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda NgasemNgajum
Malang Tahun 1969
Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2013Latar belakang berdirinya lembaga pendidikan MI Miftahul
Huda adalah :1)
Kebutuhan masyarakat akan
adanya suatu lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas Islam.
2) Pengembangan dakwah Islamiyah dalam rangka menciptakan manusia yang berkualitas, beriman dan bertaqwa.
3) Membantu anak-anak miskin dan yatim piatu agar dapat mengikuti pendidikan yang dibutuhkan.Terwujudnya lembaga pendidikan MI Miftahul Huda desa Ngasem kecamatan Ngajum kabupaten Malang mempunyai tujuan disamping untuk membentuk manusia yang paripurna juga serta melaksanakan program pendidikan Nasional supaya menjadi warga Negara yang baik.
Lembaga pendidikan ini selain mengikuti kurikulum dari Departemen Agama , juga mengikuti kurikulum pesantren ( Madrasah Diniyah ). Hal ini berjalan sejak berdiri sampai pada tahun 1987.proses belajar mengajar dilaksanakan siang hari setelah sholat dhuhur yaitu pukul 12.30 sampai dengan sore hari pukul 17.00.Pada tahun 1988 lembaga ini mulai memilah antara madrasah diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah ( sederajat dengan Sekolah Dasar ). Untuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah masuk pagi pukul 07.00 sampai 12.30.dan untuk Madrasah Diniyah masuk sore.Perubahan ini merupakan tindakan positif untuk memenuhi kurikulum yang diberlakukan oleh Departemen Agama.Dan sejak tahun 1993 atas usaha dari pengelola dan pengurus, Madrasah ini mendapat status terdaftar berdasar pada surat keputusan Kepala Departemen Agama Kabupaten Malang tertanggal 12 Juli 1993 nomor : M. m.16/05.00/PP.004/778/SK/1993.Selanjutnya pada tanggal 25 Mei 1996 Madrasah mengajukan akreditasi lagi, yang selanjutnya ditindak lanjuti oleh tim dari Lembaga Ma’arif dan Departemen agama pada tanggal 9 Desember 1996. Dari hasil penilaian tersebut turun surat keputusan nomor M. m. 16/05.03/PP.03.2/002/SKP/1997 tertanggal 4 Januari 1997 yang menyatakan bahwa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang resmi berstatus diakui.Perubahan status Madrasah ini menjadikan semangat bagi para pengelola untuk mengembangkan Madrasah. Akhirnya atas saran dari Departemen agama dan juga keinginan pengelola untuk menjadikan Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang layak, maka pada tanggal 25 Desember 2001 mengajukan akreditasi lagi. Dan pada tanggal 30 Januari 2002 datang tim dari Lembaga Ma’arif dan Departemen Agama untuk melakukan penilaian dan kelayakan Madrasah. Selanjutnya keluar surat keputusan dari Departemen agama Kabupaten Malang tertanggal 27 Pebruari 2002 nomor : M. m. 16/05.03/PP.03.2/125/2002 tentang peresmian Madrasah Miftahul Huda sebagai lembaga pendidikan berstatus disamakan. Setelah berstatus disamakan para guru dan pengurus semakin bersemangat untuk menjadikan madrasah lebih maju dan berkembang. Setelah dirasa madrasah telah memenuhi standar pendidikan maka pada tahun 2010 mengajukan akriditasi pada Badan Akriditasi Nasional ( BAN-S/M ). Selanjutnya keluar surat keputusan dari BAN-S/M tertanggal 03 November 2011 yang menyatakan bahwa Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda terakriditasi B.Dengan berubahnya status ini harapan para pengelola dan masyarakat agar siswa dan calon siswa lebih tertarik untuk melanjutkan masuk di madrasah ini, sehingga secara kuantitas bertambah banyak dan secara kualitas dapat dihandalkan.b. Visi, misi dan tujuan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda1) Visi Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda :Terwujudnya generasi muslim yang beriman, berilmu dan beramal sholeh,serta memiliki daya saing dalam bidang IPTEK dan berwawasan lingkungan.2) MISI Madrasah Ibtida’iyah Miftahul HudaMenumbuhkembangkan sikap, perilaku dan amaliah keagamaanIslam di madrasaha) Menumbuhkembangkan semangat belajar ilmu keagamaan Islam
b) Melestarikan,mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam berfaham Ahlussunah Waljama’ah
c) Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran secara PAIKEMI
(Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan
danIslami).
d) Menumbuhkan semangat keunggulan secara inensif dan daya saing
yang sehat kepada seluruh warga madrasah, baikprestasi akademikmaupun non-akademik.e) Menciptakan lingkungan madrasah yang sehat, bersih, rindang, indah,
nyaman, kondusif dan menyenangkan.f) Mengembangkan kecakapan hidup (life skills) dalam setiap aktifitas-
aktifitas pendidikan.g) Mengembangkan sikap kepekaan peserta didik terhadap lingkungan.
h) Mewujudakan madrasah sebagai lembaga pendidikan berciri khas
agama Islam yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
3) Tujuan Madrasah Ibtida’iyah Miftahul hudaa) Meningkatkan pengamalan 5 S (salam, senyum, sapa, sopan dan
santun)pada seluruh warga madrasah.b) Meningkatkan pengamalan sholat dhuhur berjama’ah di madrasah.c) Meningkatkan kemahiran membaca, menulis dan Qur’an.
d) Meningkat nilai rata-rata UASBN secara berkelanjutan.e)
Mewujudkan duta madrasah dalam ajang
berprestasi di bidang
akademik maupun non-akademik di tingkat kecamatan dan kabupaten
f)
Meningkatkan kepedulian warga madrasah akan
kesehatan, kebersihan,kenyamanan dan keindahan lingkungan madrasah.g)
Meningkatkan kuantitas peserta didik dalam
PSB.h)
Meningkat jumlah sarana/ prasarana serta
pemberdayaannya yang
mendukung
peningkatan prestasi akademik dan non-akademik.i)Meningkatkan
kualitas kinerja guru dan pegawai dalam mendukung
prestasi
akademik dan non akademik peserta didik (siswa).j) Mewujudkan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang sangatdiminati
dan dibutuhkan oleh masyarakat luas.k)
Menggalang kerjasama dengan dunia usaha
dalam rangka
peningkatan kesejahteraan guru dan pegawai madrasah.c. Keadaan tenaga pengajar dan karyawan MI Miftahul HudaTenaga pengajar dalam hal ini adalah guru di MI Miftahul
Huda Ngasem Ngajum Malang. Pada saat dilaksanakan penelitian guru di MI
Miftahul Huda sudah memadai, jumlah siswa sudah seimbang dengan jumlah guru,
begitu juga untuk masing-masing bidang studi ( pelajaran ).Sementara itu tenaga administrasi
pada lembaga ini masih minim.Sehingga sebagian guru juga ikut membantu
mengerjakan tugas administrasi demi kelancaran dan berjalannya lembag ini. Data
mengenai tenaga pengajar dan karyawan dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel 4.4 Jumlah Tenaga Pengajar Dan Karyawan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015
Sumber :Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2014d.
Struktur organisasi MI Miftahul
HudaStruktur organisasi MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum
Malang dapatdilihat pada bagan di bawah ini :Struktur Organisasi Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum
Malang Tahun Pelajaran 2014/2015






|
No
|
Nama
|
Alamat
|
Keterangan
|
|
1
|
H. Abdul Rohim
|
Ngasem
|
Pengurus NU
|
|
2
|
H. Mahmud
|
Ngasem
|
Tokoh masyarakat
|
|
3
|
H. Ihsan
|
Ngasem
|
Tokoh masyarakat
|
|
4
|
Asmuji
|
Ngasem
|
Tokoh masyarakat
|
|
5
|
H. Umar
|
Ngasem
|
Ulama
|
|
6
|
Munasir
|
Ngasem
|
Mantan kepala desa
|
|
7
|
Kh. Chalimi
|
Ngasem
|
Ulama
|
|
8
|
Imron Rosadi
|
Ngasem
|
Ansor
|
|
No
|
Nama
|
Alamat
|
Keterangan
|
|
1
|
Kepala Desa
|
Ngasem
|
Pelindung
|
|
2
|
H. Umar
|
Ngasem
|
Penasehat
|
|
3
|
H. Abdul Rohim
|
Ngasem
|
Ketua
I
|
|
4
|
H. Ihsan
|
Ngasem
|
Ketua
II
|
|
5
|
Munasir
|
Ngasem
|
Sekretaris
I
|
|
6
|
Imron Rosadi
|
Ngasem
|
Sekretaris
II
|
|
7
|
H. Mahmud
|
Ngasem
|
Bendahara
I
|
|
8
|
Abdul Kholik
|
Ngasem
|
Bendahara
II
|
|
9
|
Asmuji
|
Ngasem
|
Anggota
|
|
10
|
M. Djazuli
|
Ngasem
|
Anggota
|
|
11
|
Siamin
|
Ngasem
|
Anggota
|
|
12
|
Laseri
|
Ngasem
|
Anggota
|
|
No
|
Nama
|
Alamat
|
Keterangan
|
|
1
|
Munasir
|
Ngasem
|
Kepala
Madrasah
|
|
2
|
Kh. Chalimi
|
Ngasem
|
Waka. Madrasah
|
|
3
|
Imron Rosadi
|
Ngasem
|
Guru
|
|
4
|
Kuzaini
|
Ngasem
|
Guru
|
|
5
|
Abdul Kholik
|
Ngasem
|
Guru
|
|
6
|
Muhsin
|
Ngasem
|
Guru
|
|
7
|
Ismail
|
Ngasem
|
Guru
|
|
8
|
Muhiyin
|
Ngasem
|
Guru
|
2) Pengembangan dakwah Islamiyah dalam rangka menciptakan manusia yang berkualitas, beriman dan bertaqwa.
3) Membantu anak-anak miskin dan yatim piatu agar dapat mengikuti pendidikan yang dibutuhkan.Terwujudnya lembaga pendidikan MI Miftahul Huda desa Ngasem kecamatan Ngajum kabupaten Malang mempunyai tujuan disamping untuk membentuk manusia yang paripurna juga serta melaksanakan program pendidikan Nasional supaya menjadi warga Negara yang baik.
Lembaga pendidikan ini selain mengikuti kurikulum dari Departemen Agama , juga mengikuti kurikulum pesantren ( Madrasah Diniyah ). Hal ini berjalan sejak berdiri sampai pada tahun 1987.proses belajar mengajar dilaksanakan siang hari setelah sholat dhuhur yaitu pukul 12.30 sampai dengan sore hari pukul 17.00.Pada tahun 1988 lembaga ini mulai memilah antara madrasah diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah ( sederajat dengan Sekolah Dasar ). Untuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah masuk pagi pukul 07.00 sampai 12.30.dan untuk Madrasah Diniyah masuk sore.Perubahan ini merupakan tindakan positif untuk memenuhi kurikulum yang diberlakukan oleh Departemen Agama.Dan sejak tahun 1993 atas usaha dari pengelola dan pengurus, Madrasah ini mendapat status terdaftar berdasar pada surat keputusan Kepala Departemen Agama Kabupaten Malang tertanggal 12 Juli 1993 nomor : M. m.16/05.00/PP.004/778/SK/1993.Selanjutnya pada tanggal 25 Mei 1996 Madrasah mengajukan akreditasi lagi, yang selanjutnya ditindak lanjuti oleh tim dari Lembaga Ma’arif dan Departemen agama pada tanggal 9 Desember 1996. Dari hasil penilaian tersebut turun surat keputusan nomor M. m. 16/05.03/PP.03.2/002/SKP/1997 tertanggal 4 Januari 1997 yang menyatakan bahwa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang resmi berstatus diakui.Perubahan status Madrasah ini menjadikan semangat bagi para pengelola untuk mengembangkan Madrasah. Akhirnya atas saran dari Departemen agama dan juga keinginan pengelola untuk menjadikan Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang layak, maka pada tanggal 25 Desember 2001 mengajukan akreditasi lagi. Dan pada tanggal 30 Januari 2002 datang tim dari Lembaga Ma’arif dan Departemen Agama untuk melakukan penilaian dan kelayakan Madrasah. Selanjutnya keluar surat keputusan dari Departemen agama Kabupaten Malang tertanggal 27 Pebruari 2002 nomor : M. m. 16/05.03/PP.03.2/125/2002 tentang peresmian Madrasah Miftahul Huda sebagai lembaga pendidikan berstatus disamakan. Setelah berstatus disamakan para guru dan pengurus semakin bersemangat untuk menjadikan madrasah lebih maju dan berkembang. Setelah dirasa madrasah telah memenuhi standar pendidikan maka pada tahun 2010 mengajukan akriditasi pada Badan Akriditasi Nasional ( BAN-S/M ). Selanjutnya keluar surat keputusan dari BAN-S/M tertanggal 03 November 2011 yang menyatakan bahwa Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda terakriditasi B.Dengan berubahnya status ini harapan para pengelola dan masyarakat agar siswa dan calon siswa lebih tertarik untuk melanjutkan masuk di madrasah ini, sehingga secara kuantitas bertambah banyak dan secara kualitas dapat dihandalkan.b. Visi, misi dan tujuan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda1) Visi Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda :Terwujudnya generasi muslim yang beriman, berilmu dan beramal sholeh,serta memiliki daya saing dalam bidang IPTEK dan berwawasan lingkungan.2) MISI Madrasah Ibtida’iyah Miftahul HudaMenumbuhkembangkan sikap, perilaku dan amaliah keagamaanIslam di madrasaha) Menumbuhkembangkan semangat belajar ilmu keagamaan Islam
b) Melestarikan,mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam berfaham Ahlussunah Waljama’ah
c) Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran secara PAIKEMI
(Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan
yang sehat kepada seluruh warga madrasah, baikprestasi akademikmaupun non-akademik.e) Menciptakan lingkungan madrasah yang sehat, bersih, rindang, indah,
nyaman, kondusif dan menyenangkan.f) Mengembangkan kecakapan hidup (life skills) dalam setiap aktifitas-
aktifitas pendidikan.g) Mengembangkan sikap kepekaan peserta didik terhadap lingkungan.
h) Mewujudakan madrasah sebagai lembaga pendidikan berciri khas
agama Islam yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
3) Tujuan Madrasah Ibtida’iyah Miftahul hudaa) Meningkatkan pengamalan 5 S (salam, senyum, sapa, sopan dan
Tabel 4.4 Jumlah Tenaga Pengajar Dan Karyawan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015
|
No
|
Tenaga
Pengajar
|
Jumlah
|
|
1
|
Laki – laki
|
5 orang
pengajar
|
|
2
|
Perempuan
|
11 orang pengajar
|
|
3
|
Perempuan
|
1 orang TU
|
![]() |
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
e.
Keadaan siswa MI Miftahul HudaJumlah siswa di MI Miftahul Huda
tergolong cukup banyak untuk pendidikan di dasar tingkat desa.Jumlah
keseluruhan siswa MI MIftahul Huda sebanyak 178 siswa, yang terbagi menjadi
tujuh kelas. Data tentang siswa MI Miftahul Huda dapat dilihat pada tebel berikut
: Tabel 4.5 Data Siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015
Sumber :
Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2014 f.
Sarana prasarana MI Miftahul
HudaMadrasah sebagai tempat belajar
tentu memiliki berbagai fasilitas atau sarana dan prasarana yang bermanfaat
khususnya untuk kelancaran proses belajar mengajar. Selain itu sarana dan
prasarana yang tersedia juga diharapkan berguna untuk kepentingan kegiatan-kegiatan
lain yang berhubungan dengan masyarakat. Adapun sarana dan prasarana yang
tersedia di MI Miftahul Huda antara lain : Tabel 4.6 Sarana Dan Prasarana Madrasah Ibtidaiyah Miftahul HudaNgasem
Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015
Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2014 2.
Paparan Data Siklus I
Pembelajaran
siklus I terdiri dari perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam siklus I adalah agar siswa
dapat melakukan perkalian 1 angka dan 1 angka, 2 angka dan 1 angka, 2 angka dan
2 angka, dan memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan perkalian. Alokasi
waktu pada siklus ini adalah 3x35
menit.
a. Perencanaan Tindakan
Pada
tahap perencanaan peneliti mengadakan observasi terhadap proses
pembelajaran dan prestasi
belajar Matematika pada kelas III-B untuk mengetahui media, metode,
strategi pembelajaran yang telah digunakan oleh guru, serta proses pembelajaran
yang telah berlangsung. Peneliti juga mencatat hasil belajar yang diperoleh
oleh masing-masing siswa.
Berdasarkan pengamatan dan hasil catatan
terhadap proses pembelajaran dan prestasi belajar sebelum tindakan, dapat
diperoleh informasi sebagai data awal. Hasil pencatatan menunjukkan bahwa dari
20 siswa kelas III-B terdapat 11
siswa atau sekitar 55% yang masih belum mampu berhitung perkalian. Hal ini
ditunjukkan dengan perolehan nilai siswa yang belum mencapai nilai 70 (KKM). Oleh karena itu, peneliti dan teman sejawat mendiskusikan rancangan tindakan
yang akan dilakukan pada penelitian ini. Dan diperoleh
kesepakatan bahwa pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan dalam 3 kali
pertemuan dengan alokasi waktu tiap pertemuan 2 x 35 menit yaitu pada tanggal 5, 6 dan 7Agustus
2014.Dengan berpedoman
pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI 2006 Kelas III. Peneliti
melakukan langkah-langkah perencanaan pembelajaran Matematika dengan menerapkan
teknik jarimatika sebagai berikut:
1.
Mempelajari KTSP dan
Silabus Kelas III SD/MI
Standar Kompetensi: I. Melakukan Operasi Hitung Bilangan sampai
tiga angka.
Kompetensi Dasar: 1.3 Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangantiga angka.
2.
Peneliti bersama dengan
guru merancang Rencana PelaksanaanPembelajaran
(RPP) dengan beberapa indikator sebagai berikut:1.3.1 Mampu melakukan perkalian satu angka dan satu angka.
1.3.2 Mampu melakukan perkalian dua angka dan satu angka.1.3.3 Mampu melakukan perkalian dua angka dan dua angka
1.3.4 Mampu memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan
perkalian.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilaksanakan tiga kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dalam waktu dua jam pelajaran (2 x 35 menit).3. Peneliti dan Guru membuat LKS dan lembar evaluasi.
4.
Menyediakan alat peraga
berupa permen untuk penjumlahan berulang,
dan selebihnya menggunakan jari tangan masing-masing.5. Membuat lembar observasi guru dan siswa.b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknik jarimatika sesuai dengan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. Pembelajaran pada siklus I
dilaksanakan 3 kali pertemuan.
1)
Pertemuan
Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada
tanggal 5
Agustus 2014.Pada
pertemuan ini materi yang diajarkan adalah mengenal perkalian sebagai
penjumlahan berulang.Sebagai kegiatan awal peneliti dan siswa berdoa bersama, mengkondisikan kelas, mengabsen siswa, dan
melakukan apersepsi.Pada awal pembelajaran suasana kelas sangat
hening, tapi ketika peneliti menanyakan kepada siswa tentang penjumlahan
bilangan “5 + 5 = ..., 6 + 6 + 6 = ... “. Suasana berubah menjadi sedikit gaduh.
Berikut adalah gambaran awal pembelajaran,
beberapa siswa
berteriak-teriak gampil.. gampil bu,(mudah bu)
kayak kelas satu aja bu...bu, beberapa siswa terus berteriak-teriak sampai peneliti berdiri dari tempat duduk sambil bertepuk tangan sebanyak tiga kali dan berteriak mengucapkan sudah...sudah...ayo diam jangan ramai aja, ayo coba angkat tangan siapa yang mau menjawab. Muhim kemudian angkat tangan dan menjawab ada 10 bu, lalu minan mengangkat tangannya juga saya bu.. yang kedua ada18. Bagus pintar sekali kalian.[1] Peneliti melanjutkan
menjelaskan perkalian
sebagai penjumlahan berulang. Peneliti memberi contoh menghitung perkalian dengan menggunakan permen selanjutnya sampai siswa mengerjakan
evaluasi. Berikut adalah gambaran dalam kegiatan belajar.
Zulfi kembali berulah berbisik-bisik kepada teman kiri kanannya, sambil berbicara, wah nanti kita mendapat permen dari bu guru kalau kita bisa mengerjakan tapi gimana ya, minan berkomentar kamu itu Zul pikirannya cuma makan aja. Ayo coba maju sana kerjakan dipapan tulis, gah gak mau aku gak bisa. Peneliti berkata sudah ayo siapa yang mau maju nanti ibu kasih permennya, Minan sama Muhim bersamaan mengacungkan tangannya. Baik ayo maju bersama kerjakan soalnya satu-satu. Kemudian peneliti memberikan soal evaluasi suasana menjadi sunyi, karena semua siswa serius mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh peneliti.[2]
Peneliri kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian memberikan pekerjaan rumah. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
2)
Pertemuan KeduaPertemuan kedua dilaksanakan pada
tanggal 6
Agustus 2014. Pada
pertemuan yang ke-2 ini pembelajaran direncanakan dengan menggunakan metode jarimatika, materi yang diajarkan
adalah mengalikan bilangan 6-10 dengan berbagai cara. Pada kegiatan ini peneliti memperkenalkan jarimatika kepada
siswa. Peneliti mendemonstrasikan formasi
jarimatika bilangan 6-10 dengan menggunakan tangan dan meminta siswa untuk
menirukan.
Berikut gambaran suasananya,
Ayo anak-anak coba perhatikan bu guru mau memperagakan cara menghitung perkalian dengan menggunakan jari-jari ibu, nanti kalian sambil menirukan ya..., selanjutnya peneliti menuliskan beberapa soal di papan tulis siapa yang bisa maju, lagi-lagi yang maju Minan, Muhim, Della, Ahmad dan Devi. Bagus pintar sekali kalian ayo yang lain mana kok gak berani maju, Fajar menjawab, takut bu.. takut salah. Oh..o..o.. gak apa-apa jangan takut salah siapa yang mencoba pasti akan bisa [3] Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa
yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian memberikan
pekerjaan rumah. Peneliti menutup
pembelajaran Matematika.
3) Pertemuan Ketiga
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada
tanggal 7
Agustus 2014.Pada
pertemuan yang ke-3 ini pembelajaran direncanakan dengan menggunakan metode jarimatika, materi yang diajarkan
adalah menyelesaikan masalah yang melibatkan perkalian dengan mengaitkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan
perkalian.Pada kegiatan ini, peneliti mengulangi menjelaskan formasi jari tangan dengan metode jarimatika dan mendemonstrasikan
menghitung perkalian dengan menggunakan metode jarimatika.Peneliti
menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang perkalian dengan menentukan
kalimat Matematikanya kemudian menghitungnya dengan metode jarimatika. peneliti membagi siswa dalam kelompok dan
masing-masing kelompok terdiri atas 2 anak.
Pada awal kegiatan kerja kelompok, suasana kelas menjadi agak gaduh setelah peneliti mempersilahkan setiap pasangan untuk memperagakan hasil jawabannya di depan teman-temannya dengan menggunakan jaritangan masing-masing. Berikut adalan gambaran kerja kelompok sampai pada memperagakannya.
Beberapa siswa berjalan mencari teman kelompoknya, sebagian anak berteriak memanggil temannya... Mat, sini... kamu dengan aku mari duduk di bangku depan sana aja teriak zulfi memanggil teman untuk dijadikan kelompoknya. Sebagian siswa lain nampak menggeser kursi hingga suasana gesekan kursi dan lantai bertambah ramai sambil memangil temannya untuk dijadikan kelompoknya, lagi-lagi bu guru beranjak dari tepat duduknya sambil bertepuk tangan dan berteriak mengucapkan sudah...sudah... ayo duduk yang rapi dan mulai kerjakan soalnya, nanti setelah selesai diperagakan di depan secara bergantian [4] Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan
tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya kemudian memberikan lembar evaluasi siklus I untuk dikerjakan secara individu. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
c. Penilaian Hasil Tindakan Siklus I
Penilaian tindakan ini meliputihasil observasi aktivitas guru
atau peneliti dan observasi aktivitas siswa, serta hasil tes akhir siklus I. Untuk lebih jelasnya hasil observasi aktivitas peneliti, hasil
observasi aktivitas siswa, dan hasil
tes akhir siklus I, dalam pembelajaran ini
dideskripsikan sebagai berikut:1)
Aktivitas Peneliti Pada
Kegiatan Pembelajaran Siklus I.
Aktivitas peneliti pada
pelaksanaan siklusI berlangsung sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya,
sebagian besar indikator kegiatan sudah tercapai dalam pelaksanaan pembelajaran
tersebut.Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar
observasi kegiatan peneliti.Peneliti telah berhasil memberikan bimbingan kepada
siswa dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
Pengamat peneliti melakukan observasi sesuai dengan petunjuk pada lembar observasi, yaitu dengan menggunakan tanda (√) pada kolom yang disediakan. Hasil observasi yang dilakukan observer dianalisis dengan menggunakan pedoman penskoran. Data dari hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Skor yang diperoleh pada masing-masing aktivitas disebut dengan jumlah skor, sedangkan skor ideal masing-masing aktivitas disebut skor maksimal. Selanjutnya dihitung skor perolehan dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal dan dikalikan 100%. Berikut merupakan paparan data mengenai aktivitas peneliti dalam pembelajaran berdasarkan hasil observasi.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode Jarimatikapada siklus I. Sebagian indikator pembelajaran telah tercapai. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti dari semua observer terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapa dilihat pada tabel yang sudah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer I terhadap aktivitas peneliti dalam melaksanakan pembelajaran pada tabel tersebut diatas, jumlah skor yang diperoleh adalah 57 dari skor maksimal 68. Dengan demikian persentaseskor adalah :
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas guru termasuk dalam kategori “sangat baik”. Hal ini menunjukkan taraf keberhasilan peneliti selama pembelajaran berdasarkan observasi berada dalam kategori sangat baik, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas peneliti sudah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
2) Aktivitas Siswa Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus I
Pada kegiatan pembelajaran siklus I, siswa
terlibat cukup serius mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kondisi tersebut dapat dilihat pada lembar observasi aktivitas siswa yang
diobservasi oleh teman sejawat sebagai pengamat I dan pengamat II. Hasil observasi aktivitas siswa dianalisis
dengan menggunakan analisis data yang sama seperti analisis data hasil
observasi aktivitas peneliti yaitu analisis persentase. Berikut ini adalah paparan
data mengenai hasil pengamatan terhadap siswa.Hasil
observasi yang dilakukan kedua pengamat terlihat bahwa siswa sangat tertarik
belajar perkalian
karena dalam kehidupan sehari-hari
sering ditemukan hal-hal yang dapat dihitung dengan menggunakan perkalian.Siswa juga terlihat percaya diri untuk bertanya
dan mengemukakan pendapatnya jika
mengalami kesulitan ataupun mengetahui informasi baru. Tetapi masih kebingungan
ketika dipersilahkan membuat soal dan berdiskusi
bersama pasangannya. Hal ini karena
siswa belum terbiasa menghitung secara cepat dan adanya rasa takut jika jawabannya salah.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan motode Jarimatika pada siklus I, sebagian besar indikator pembelajaran sudah tercapai, namun perlu ditingkatkan lagi. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan siswa dari semua observer yang terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada tabel di atas, jumlah skor yang diperoleh adalah 53dari skor maksimal 72. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
Hasil perhitungan di atas
menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas siswa termasuk dalam kategori
“Baik”. Kegiatan yang dapat dilihat dalam
lembar observasi tersebut bukan berarti proses pembelajaran berjalan
dengan baik, karena masih ada siswa yang belum melakukan aktivitas diatas. Hal yang
belum dilakukan sepenuhnya adalah:
a) Kurang memperhatikan topik, tujuan dan rencana pembelajaran
yang disampaikan
b) Tidak mencatat langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan
dalam pembelajaran Jarimatikac) Kurang tanggap dalam mengerjakan contoh soal yang diberikan
guru
d) Tidak memperhatikan kesimpulan hasil pembelajaran yang
disampaikan oleh guru
3) Hasil tes akhir siklus I
Peneliti menginginkan informasi tentang besarnya siswa
yang tuntas dan tidak tuntas setelah pelaksanaan siklus I, maka data perolehan
hasil belajar siswa harus dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM)
mata pelajaran Matematika yang ditetapkan oleh MI Miftahul Huda tersebut. Jika
KKM mata pelajaran Matematika sebesar 70, maka penyajian datanya adalah
sebagaimana tabel berikut,
Tabel 4.1 Data Frekuensi Hasil Evaluasi Matematika Setelah
Menggunakan Teknik Jarimatika Pada Siklus I
Dengan demikian
diperoleh informasi bahwa dari 20 siswa yang mengikuti tes siklusI sebanyak 14
siswa atau 70% dinyatakan tuntas, dan sebanyak 6 siswa atau 30% dinyatakan
tidak tuntas.
Dari data di atas peneliti juga memerlukan informasi tentang rata-rata skor tes pada siklusI, untuk itu peneliti harus menjumlahkan seluruh skor tes para siswa selanjutnya membaginya dengan jumlah seluruh siswa. Sehingga diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusI sebesar 78,20 meskipun telah mengalami peningkatan dari sebelum diadakan tindakan. Karena ketuntasan klasikal dalam penelitian ini adalah 85%, sehingga akan dilanjutkan pada siklus II agar hasil belajar dapat meningkat dan mencapai ketuntasan belajar klasikal yang telah ditentukan.
Data frekuensi peningkatan hasil evaluasi Matematika sebelum dan setelah menggunakan teknik jarimatika pada siklus I dapat dilihat pada tabel.Tabel 4.2 Persentase Skor Tes Awal dan Skor Tes Akhir Siklus I
d.
Refleksi
Menurut hasil observasi terhadap aktivitas
peneliti dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas peneliti telah mencapai
kriteria keberhasilan, yaitu 83%. Hal ini berarti bahwa kriteria keberhasilan
aktivitas siswa pada tindakan ini mencapai kriteria “sangat baik”. Sedangkan
hasil observasi terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga
mencapai keberhasilan, yaitu 74% yang berarti mencapai kriteria “baik”. Dari
hasil observasi tersebut, terlihat bahwa tindakan pada siklus I telah
menampakkan hasil yang diharapkan. Namun, hasil tes akhir siklus I diketahui
bahwa ketuntasan belajar siswa mencapai 70% yang artinya masih 70% dari total
seluruh siswa memperoleh nilai
70, dan diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusI sebesar 78,20 meskipun
telah mengalami peningkatan dari sebelum diadakan tindakan. Karena ketuntasan
klasikal dalam penelitian ini adalah 85%, sehingga dengan persetujuan dua teman
sejawat sebagai observer, kegiatan pembelajaran akan dilanjutkan pada siklus II
agar hasil belajar dapat meningkat dan mencapai ketuntasan belajar klasikal
yang telah ditentukan.
3. Paparan Data Siklus IIPada siklus I hasil pembelajaran kemampuan berhitung perkalian masih belum tuntas. Oleh karena itu, kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilanjutkan ke siklus II dengan harapan pada siklus II dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan pada siklus I. Kegiatan penelitian tindakan pada siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan. Kegiatan dari siklus II ini adalah sabagai berikut:a. Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan pada
siklus I telah diketahui bahwa ada peningkatan kemampuan berhitung siswa
terhadap materi pembelajaran Perkalian tetapi belum maksimal. Hal-hal yang perlu diperbaiki guru adalah sebagai
berikut: memberikan arahan kembali kepada siswa tentang formasi jarimatika atau
langkah-langkah yang digunakan dalam pembelajaran menggunakan metode jarimatika, pada saat pembelajaran
peneliti meminta siswa maju secara acak dalam mendemonstrasikan formasi
jarimatika dan menghitung perkalian dengan menggunakan teknik jarimatika.
Selain itu, peneliti memberikan konsep angka yang lebih sulit agar kemampuan
berhitung siswa lebih meningkat.
Dengan
berpedoman pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI 2006 Kelas III. Peneliti melakukan langkah-langkah
perencanaan pembelajaran Matematika dengan menerapkan teknik jarimatika sebagai
berikut:1.
Mempelajari KTSP dan
Silabus Kelas III SD/MI
Standar Kompetensi: I. Melakukan Operasi Hitung Bilangan sampai
tiga angka.
Kompetensi Dasar: 1.3 Melakukan perkalian bilangan yang hasilnyabilangantiga angka.
2.
Peneliti bersama dengan
guru merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan beberapa indikator
sebagai berikut:1.3.1 Mampu melakukan perkalian satu angka dan satu angka.
1.3.2 Mampu
melakukan perkalian dua angka dan satu angka.1.3.3 Mampu
melakukan perkalian dua angka dan dua angka
1.3.4 Mampu memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan
perkalian.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilaksanakan dua kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dalam waktu dua jam pelajaran (2 x 35 menit).
3.
Peneliti dan Guru
membuat LKS dan lembar evaluasi.
4.
Menyediakan alat peraga
berupa sedotan untuk penjumlahan berulang,
dan selebihnya menggunakan jari tangan masing-masing.5. Membuat lembar observasi guru dan siswa.
b. PelaksanaanTindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan
pembelajaran dengan menggunakan teknik jarimatika sesuai dengan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
telah disusun. Pembelajaran pada siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan:
1) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 2014.Pada pertemuan ini materi yang
diajarkan adalah fakta dasar perkalian. Pada awal pembelajaran peneliti menanyakan kepada siswa tentang
penjumlahan bilangan ”3 + 3 = ...., 4 + 4 + 4 =...., 5 + 5 + 5 + 5 =....”. Selanjutnya peneliti menjelaskan perkalian sebagai
penjumlahan berulang. Guru memberi contoh menghitung perkalian dengan
menggunakan sedotan (bilangan 1-5).Peneliti menggali pengalaman siswa dalam
pertemuan yang lalu dengan beberapa pertanyaan lisan. Guru menentukan masalah
yang mengkaitkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perkalian. Gambaran kegiatan belajar
pada pertemuan 1 siklus II adalah sebagai berikut,
Suasana belajar sangat menyenangkan ketika peneliti mendemonstrasikan menghitung perkalian dengan menggunakan metode Jarimatika yang diselingi dengan tepuk konsentrasi, hai nanda, bilal, fajar kenapa tidak berkonsentrasi berbicara sendiri aja, ayo anak tiga itu maju coba kerjakan soal di papan tulis itu sambil didemonstrasikan dengan menggunakan jari tangan masing-masing, sekarang kalian mau berkonsentrasi apa tidak, iya..iya bu maaf kata bilal sambil berlari duduk kembali ketempatnya.[5]Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian peneliti menutup pembelajaran Matematika.
2) Pertemuan KeduaPertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 12Agustus 2014.Pada pertemuan yang ke-2 ini pembelajaran direncanakan dengan menggunakan metode jarimatika, materi yang diajarkan adalah menyelesaikan masalah yang mengandung perkalian dengan mengaitkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perkalian.Pada kegiatan ini, peneliti mengulangi menjelaskan formasi jari tangan dengan metode jarimatika dan mendemonstrasikan menghitung perkalian dengan menggunakan metode jarimatika. Peneliti menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang perkalian dengan menentukan kalimat Matematikanya kemudian menghitungnya dengan metode jarimatika. peneliti membagi siswa dalam kelompok dan masing-masing kelompok terdiri atas 2 anak.
Pada awal kegiatan kerja kelompok, suasana kelas sudah kelihatan tenang setelah peneliti mempersilahkan setiap pasangan untuk memperagakan hasil jawabannya di depan teman-temannya dengan menggunakan jaritangan masing-masing. Berikut adalan gambaran kerja kelompok sampai pada memperagakannya.
Anak-anak sudah mulai mengerti dengan tugasnya, kelompoknya tetapa bu..., iya. Beberapa siswa berjalan mencari teman kelompoknya masing-masing,dengan langsung mengubah posisi tempat duduknya.Peneliti menginformasikan sudah sekarang kerjakan soalnya bersama kelompok masing-masing, nanti kalau sudah selesai maju secara bergantian dari perwakilan kelompok untuk mendemonstrasikan jawaban dari soal-soalkalian[6] Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan
tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya kemudian memberikan lembar evaluasi siklus II untuk dikerjakan secara individu. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
c. Penilaian Hasil Tindakan siklus II
Penilaian tindakan ini meliputi hasil observasi aktivitas guru atau peneliti dan hasilobservasi
aktivitas siswa, serta hasil tes akhir siklus I. Untuk lebih
jelasnya hasil observasi aktivitas peneliti, hasil observasi aktivitas siswa,
dan hasil tes akhir siklus II, dalam pembelajaran ini dideskripsikan sebagai berikut:1)
Aktivitas Peneliti Pada
Kegiatan Pembelajaran Siklus II.Aktivitas peneliti pada pelaksanaan siklusII
berlangsung sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya, sebagian besar
indikator kegiatan sudah tercapai dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut.
Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat
dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti. Peneliti dapat membenahi kekurangan-kekurangan
pada siklus I, seperti lebih memberi kesempatan bertanya pada
siswa, dapat menyimpulkan materi dengan baik.
Pengamat peneliti melakukan observasi sesuai dengan petunjuk pada lembar observasi, yaitu dengan menggunakan tanda (√) pada kolom yang disediakan. Hasil observasi yang dilakukan observer dianalisis dengan menggunakan pedoman penskoran. Data dari hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Skor yang diperoleh pada masing-masing aktivitas disebut dengan jumlah skor, sedangkan skor ideal masing-masing aktivitas disebut skor maksimal. Selanjutnya dihitung skor perolehan dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal dan dikalikan 100%. Berikut merupakan paparan data mengenai aktivitas peneliti dalam pembelajaran berdasarkan hasil observasi.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode jarimatika pada siklus II, sebagian indikator pembelajaran telah tercapai. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti dari semua observer terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer I terhadap aktivitas peneliti dalam melaksanakan pembelajaran pada tabel tersebut diatas, jumlah skor yang diperoleh adalah 60 dari skor maksimal 68. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa
observasi terhadap aktivitas peneliti termasuk dalam kategori “sangat baik”.
Hal ini menunjukkan taraf keberhasilan
peneliti selama pembelajaran berada dalam kategori “sangat baik” dan meningkat
dari siklus I. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas peneliti sudah
sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
2) Aktivitas Siswa Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus II
Pada
kegiatan pembelajaran siklus II, siswa terlibat cukup
serius mengikuti kegiatan pembelajaran. Kondisi tersebut dapat dilihat pada
lembar observasi aktivitas siswa yang diobservasi oleh teman sejawat sebagai pengamat I dan pengamat II. Hasil
observasi aktivitas siswa dianalisis dengan menggunakan analisis data yang sama
seperti analisis data hasil observasi aktivitas peneliti yaitu analisis persentase. Berikut
ini adalah paparan data mengenai hasil pengamatan terhadap siswa.Hasil
observasi yang dilakukan kedua pengamat terlihat bahwa siswa sangat tertarik
belajar perkalian
dengan menggunakan metode Jarimatika.
Siswa terkesan dengan model pembelajaran pada siklus I, sehingga tanpa diminta
membuka catatan materi sebelumnya, siswa sudah mempersiapkan buku di atas meja.
Siswa sudah tidak terlihat bingung ketika diberi intruksi untuk
mendemonstrasikan perkalian dengan metode jarimatika.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode Jarimatika pada siklus II, sebagian besar indikator pembelajaran sudah tercapai. Terlihat adanya peningkatan ketercapaian indikator dari siklus sebelumnya. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan siswa dari semua observer yang terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada tabel di atas, jumlah skor yang diperoleh adalah 61 dari skor maksimal 72. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
= 85%
Hasil perhitungan persentase diatas menunjukkan bahwa aktivitas siswa termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Kegiatan yang dapat dilihat dalam lembar observasi tersebut bukan berarti proses pembelajaran berjalan dengan baik, karena masih ada siswa yang belum melakukan aktivitas diatas. Hal yang belum dilakukan sepenuhnya adalah:
a) Kurang tanggap dalam mengerjakan contoh soal yang diberikan
guru
b) Kurangmemperhatikan kesimpulan hasil pembelajaran yang
disampaikan oleh guru.
3) Hasil tes akhir siklus II
Peneliti menginginkan informasi
tentang besarnya siswa yang tuntas dan tidak tuntas setelah pelaksanaan siklus
II, maka data perolehan hasil belajar siswa harus dibandingkan dengan kriteria
ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran Matematika yang ditetapkan oleh MI
Miftahul Huda tersebut. Jika KKM mata pelajaran Matematika sebesar 70, maka
penyajian datanya adalah sebagaimana tabel berikut,
Tabel 4.3Data Frekuensi Hasil Evaluasi Matematika Setelah Menggunakan Metode Jarimatika Pada Silkus II
Dengan demikian
diperoleh informasi bahwa ketuntasan siswa meningkat dari tes akhir siklus I.
Siswa yang mendapat nilai ≥70 sebanyak 18 siswa dari 20 siswa, dengan demikian
ketuntasan belajar setelah melaksanakan pembelajaran Jarimatikaadalah 90% yang
berarti telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dan telah mengalami
peningkatan dari siklus sebelumnya.
Dari data di atas peneliti juga memerlukan informasi tentang rata-rata skor tes pada siklusII, untuk itu peneliti harus menjumlahkan seluruh skor tes para siswa selanjutnya membaginya dengan jumlah seluruh siswa. Sehingga diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusII sebesar 85,80.
Data perbandingan frekuensi hasil tes evaluasi akhir siklus I dan siklus II berdasarkan hasil tes dapat dilihat pada tabel berikut,
Tabel 4.4Daftar Kesimpulan Per Aspek Penilaian Belajar Tiap Siklus
Berdasarkan tabel diatas,
selanjutnya peneliti dapat menginformasikan hal-hal yang dirasakan penting
untuk diungkapkan yaitu antara lain:
(a) Ketuntasan belajar mengalami kenaikan pada siklus berikutnya, dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebanyak 4 siswa atau 28,57% (perhitungan berasal dari 4 siswa dibagi 14 siswa dikalikan 100%);
(b) Skor tes rata-rata mengalami kenaikan pada siklus berikutnya, dari siklus I ke siklus II terjadi kenaikan sebesar 7,60 (dari perhitungan 85,80 – 78,20).
c. RefleksiMenurut hasil observasi terhadap aktivitas peneliti dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas peneliti telah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu 88%. Hal ini berarti bahwa kriteria keberhasilan aktivitas peneliti pada tindakan ini mencapai kriteria “sangat baik”. Sedangkan hasil observasi terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga mencapai keberhasilan, yaitu 85% yang berarti mencapai kriteria “sangat baik”. Dari hasil observasi tersebut, telah menampakkan hasil yang diharapkan dan meningkat dari tindakan sebelumnya.
Hasil tes akhir siklus II diketahui bahwa ketuntasan siswa meningkat dari tes akhir siklus I. Siswa yang mendapat nilai ≥70 sebanyak 18 siswa dari 20 siswa, dengan demikian ketuntasan belajar setelah melaksanakan pembelajaran Jarimatika adalah 90% dan diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklus II sebesar 85,80, yang berarti telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dan telah mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya. Dengan persetujuan dua teman sejawat sebagai observer, kegiatan pembelajaran dihentikan.
B. Temuan PenelitianBeberapa temuan penelitian yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, hasil observasi, dan hasil tes akhir setiap tindakan adalah sebagai berikut:
1. Temuan pada siswa
a) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah memahami materi dengan baik, karena pembelajaran dilakukan dengan permainan memperagakan jari tangan masing-masing yang membuat siswa tidak tegang dalam memahami materi atau menghitung suatu perkalian.
b) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah dan cepatuntuk menghitung perkalian, karena cuma menggerakkan jari-jari tangannya yang sesuai dengan lambangnya secara beulang-ulang membuat siswa lebih mudah dalam mengingat konsep materi perkalian dan lebih cepat dalam menghitung perkalian.
c) Membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa mau berusaha mendemonstrasikan dan mengerjakan soal yang mereka peroleh dengan cepat, dan antusias dalam memperagakannya.
2. Temuan pada guru
a) Guru selalu memberi motivasi kepada siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar matematika
b) Guru dapat menguasai kelas dengan baik, hal ini terlihat ketika ada siswa yang kurang memperhatikan
c) Guru dapat mengaitkan materi dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
.
C. Temuan PenelitianBeberapa temuan penelitian yang diperoleh pada siklus I dan siklus II,
hasil observasi, dan hasil tes akhir setiap tindakan adalah sebagai berikut:
3. Temuan pada siswa
d) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah memahami materi dengan baik, karena pembelajaran dilakukan dengan permainan memperagakan jari tangan masing-masing yang membuat siswa tidak tegang dalam memahami materi atau menghitung suatu perkalian.
e) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah dan cepatuntuk menghitung perkalian, karena cumamenggerakkan jari-jari tangannya yang sesuai dengan lambangnyasecara beulang-ulang membuat siswa lebih mudah dalam mengingat konsep materi perkalian dan lebih cepat dalam menghitung perkalian.
f) Membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa mau berusaha mendemonstrasikan dan mengerjakan soal yang mereka peroleh dengan cepat, dan antusias dalam memperagakannya.
4. Temuan pada guru
d) Guru selalu memberi motivasi kepada siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar matematika
e) Guru dapat menguasai kelas dengan baik, hal ini terlihat ketika ada siswa yang kurang memperhatikan
f) Guru dapat mengaitkan materi dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
|
NO
|
Kelas
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
|
1
|
I-A
|
10
|
12
|
22
|
|
2
|
I-B
|
10
|
12
|
22
|
|
3
|
II
|
13
|
20
|
33
|
|
4
|
III-A
|
14
|
4
|
18
|
|
5
|
III-B
|
7
|
12
|
19
|
|
6
|
|
14
|
17
|
31
|
|
7
|
V
|
10
|
21
|
31
|
|
8
|
VI
|
18
|
9
|
27
|
|
Jumlah
|
99
|
112
|
203
|
|
|
No
|
Sarana
prasarana
|
Jumlah
|
Keadaan
|
|
1
|
Ruang kepala
madrasah
|
1
buah
|
Baik
|
|
2
|
Ruang guru dan
TU
|
1
buah
|
Baik
|
|
3
|
Ruang Tamu
|
1
buah
|
Baik
|
|
4
|
Ruang belajar
|
8
buah
|
Baik
|
|
5
|
Perpustakaan
|
1
buah
|
Baik
|
|
6
|
Ruang UKS
|
1
buah
|
Baik
|
|
7
|
Ruang
laboratorium Komputer dan IPA
|
1
buah
|
Baik
|
|
8
|
Ruang koperasi
sekolah
|
1
buah
|
Baik
|
|
9
|
Lapangan olah
raga
|
1
buah
|
Baik
|
|
10
|
Kamar mandi
dan WC guru
|
1
buah
|
Baik
|
|
11
|
Kamar mandi
dan WC siswa
|
2
buah
|
Baik
|
|
12
|
Dapur
|
1
buah
|
Baik
|
|
13
|
Gudang
|
1
buah
|
Baik
|
a. Perencanaan Tindakan
Standar Kompetensi: I. Melakukan Operasi Hitung Bilangan sampai
tiga angka.
Kompetensi Dasar: 1.3 Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangantiga angka.
1.3.4 Mampu memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan
perkalian.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilaksanakan tiga kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dalam waktu dua jam pelajaran (2 x 35 menit).3. Peneliti dan Guru membuat LKS dan lembar evaluasi.
dan selebihnya menggunakan jari tangan masing-masing.5. Membuat lembar observasi guru dan siswa.b. Pelaksanaan Tindakan
kayak kelas satu aja bu...bu, beberapa siswa terus berteriak-teriak sampai peneliti berdiri dari tempat duduk sambil bertepuk tangan sebanyak tiga kali dan berteriak mengucapkan sudah...sudah...ayo diam jangan ramai aja, ayo coba angkat tangan siapa yang mau menjawab. Muhim kemudian angkat tangan dan menjawab ada 10 bu, lalu minan mengangkat tangannya juga saya bu.. yang kedua ada18. Bagus pintar sekali kalian.[1]
Zulfi kembali berulah berbisik-bisik kepada teman kiri kanannya, sambil berbicara, wah nanti kita mendapat permen dari bu guru kalau kita bisa mengerjakan tapi gimana ya, minan berkomentar kamu itu Zul pikirannya cuma makan aja. Ayo coba maju sana kerjakan dipapan tulis, gah gak mau aku gak bisa. Peneliti berkata sudah ayo siapa yang mau maju nanti ibu kasih permennya, Minan sama Muhim bersamaan mengacungkan tangannya. Baik ayo maju bersama kerjakan soalnya satu-satu. Kemudian peneliti memberikan soal evaluasi suasana menjadi sunyi, karena semua siswa serius mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh peneliti.[2]
Peneliri kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian memberikan pekerjaan rumah. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
Ayo anak-anak coba perhatikan bu guru mau memperagakan cara menghitung perkalian dengan menggunakan jari-jari ibu, nanti kalian sambil menirukan ya..., selanjutnya peneliti menuliskan beberapa soal di papan tulis siapa yang bisa maju, lagi-lagi yang maju Minan, Muhim, Della, Ahmad dan Devi. Bagus pintar sekali kalian ayo yang lain mana kok gak berani maju, Fajar menjawab, takut bu.. takut salah. Oh..o..o.. gak apa-apa jangan takut salah siapa yang mencoba pasti akan bisa [3]
3) Pertemuan Ketiga
Pada awal kegiatan kerja kelompok, suasana kelas menjadi agak gaduh setelah peneliti mempersilahkan setiap pasangan untuk memperagakan hasil jawabannya di depan teman-temannya dengan menggunakan jaritangan masing-masing. Berikut adalan gambaran kerja kelompok sampai pada memperagakannya.
Beberapa siswa berjalan mencari teman kelompoknya, sebagian anak berteriak memanggil temannya... Mat, sini... kamu dengan aku mari duduk di bangku depan sana aja teriak zulfi memanggil teman untuk dijadikan kelompoknya. Sebagian siswa lain nampak menggeser kursi hingga suasana gesekan kursi dan lantai bertambah ramai sambil memangil temannya untuk dijadikan kelompoknya, lagi-lagi bu guru beranjak dari tepat duduknya sambil bertepuk tangan dan berteriak mengucapkan sudah...sudah... ayo duduk yang rapi dan mulai kerjakan soalnya, nanti setelah selesai diperagakan di depan secara bergantian [4]
c. Penilaian Hasil Tindakan Siklus I
Pengamat peneliti melakukan observasi sesuai dengan petunjuk pada lembar observasi, yaitu dengan menggunakan tanda (√) pada kolom yang disediakan. Hasil observasi yang dilakukan observer dianalisis dengan menggunakan pedoman penskoran. Data dari hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Skor yang diperoleh pada masing-masing aktivitas disebut dengan jumlah skor, sedangkan skor ideal masing-masing aktivitas disebut skor maksimal. Selanjutnya dihitung skor perolehan dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal dan dikalikan 100%. Berikut merupakan paparan data mengenai aktivitas peneliti dalam pembelajaran berdasarkan hasil observasi.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode Jarimatikapada siklus I. Sebagian indikator pembelajaran telah tercapai. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti dari semua observer terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapa dilihat pada tabel yang sudah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer I terhadap aktivitas peneliti dalam melaksanakan pembelajaran pada tabel tersebut diatas, jumlah skor yang diperoleh adalah 57 dari skor maksimal 68. Dengan demikian persentaseskor adalah :
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas guru termasuk dalam kategori “sangat baik”. Hal ini menunjukkan taraf keberhasilan peneliti selama pembelajaran berdasarkan observasi berada dalam kategori sangat baik, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas peneliti sudah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
2) Aktivitas Siswa Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus I
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan motode Jarimatika pada siklus I, sebagian besar indikator pembelajaran sudah tercapai, namun perlu ditingkatkan lagi. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan siswa dari semua observer yang terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada tabel di atas, jumlah skor yang diperoleh adalah 53dari skor maksimal 72. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
a) Kurang memperhatikan topik, tujuan dan rencana pembelajaran
yang disampaikan
b) Tidak mencatat langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan
dalam pembelajaran Jarimatikac) Kurang tanggap dalam mengerjakan contoh soal yang diberikan
guru
d) Tidak memperhatikan kesimpulan hasil pembelajaran yang
disampaikan oleh guru
3) Hasil tes akhir siklus I
Tabel 4.1 Data Frekuensi Hasil Evaluasi Matematika Setelah
Menggunakan Teknik Jarimatika Pada Siklus I
|
No
|
Interval
Skor
|
Frekuensi
|
Persentase
|
Predikat
|
|
1.
|
70 - 100
|
14
|
70
|
Tuntas
|
|
2.
|
0 - 67
|
6
|
30
|
Tidak Tuntas
|
|
Jumlah
|
20
|
100
|
|
|
Dari data di atas peneliti juga memerlukan informasi tentang rata-rata skor tes pada siklusI, untuk itu peneliti harus menjumlahkan seluruh skor tes para siswa selanjutnya membaginya dengan jumlah seluruh siswa. Sehingga diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusI sebesar 78,20 meskipun telah mengalami peningkatan dari sebelum diadakan tindakan. Karena ketuntasan klasikal dalam penelitian ini adalah 85%, sehingga akan dilanjutkan pada siklus II agar hasil belajar dapat meningkat dan mencapai ketuntasan belajar klasikal yang telah ditentukan.
Data frekuensi peningkatan hasil evaluasi Matematika sebelum dan setelah menggunakan teknik jarimatika pada siklus I dapat dilihat pada tabel.Tabel 4.2 Persentase Skor Tes Awal dan Skor Tes Akhir Siklus I
|
No
|
Interval Skor
|
Skor Awal
|
Skor Akhir Tes SiklusI
|
Prediksi
|
||
|
Frekuensi
|
Persentase
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|||
|
1.
|
70-100
|
10
|
50
|
14
|
70
|
Tuntas
|
|
2.
|
0-69
|
10
|
50
|
6
|
30
|
Tidak Tuntas
|
|
Jumlah
|
20
|
100
|
20
|
100
|
|
|
3. Paparan Data Siklus IIPada siklus I hasil pembelajaran kemampuan berhitung perkalian masih belum tuntas. Oleh karena itu, kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilanjutkan ke siklus II dengan harapan pada siklus II dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan pada siklus I. Kegiatan penelitian tindakan pada siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan. Kegiatan dari siklus II ini adalah sabagai berikut:a. Perencanaan Tindakan
Standar Kompetensi: I. Melakukan Operasi Hitung Bilangan sampai
tiga angka.
Kompetensi Dasar: 1.3 Melakukan perkalian bilangan yang hasilnyabilangantiga angka.
1.3.4 Mampu memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan
perkalian.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilaksanakan dua kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dalam waktu dua jam pelajaran (2 x 35 menit).
dan selebihnya menggunakan jari tangan masing-masing.5. Membuat lembar observasi guru dan siswa.
1) Pertemuan Pertama
Suasana belajar sangat menyenangkan ketika peneliti mendemonstrasikan menghitung perkalian dengan menggunakan metode Jarimatika yang diselingi dengan tepuk konsentrasi, hai nanda, bilal, fajar kenapa tidak berkonsentrasi berbicara sendiri aja, ayo anak tiga itu maju coba kerjakan soal di papan tulis itu sambil didemonstrasikan dengan menggunakan jari tangan masing-masing, sekarang kalian mau berkonsentrasi apa tidak, iya..iya bu maaf kata bilal sambil berlari duduk kembali ketempatnya.[5]Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian peneliti menutup pembelajaran Matematika.
2) Pertemuan KeduaPertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 12Agustus 2014.Pada pertemuan yang ke-2 ini pembelajaran direncanakan dengan menggunakan metode jarimatika, materi yang diajarkan adalah menyelesaikan masalah yang mengandung perkalian dengan mengaitkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perkalian.Pada kegiatan ini, peneliti mengulangi menjelaskan formasi jari tangan dengan metode jarimatika dan mendemonstrasikan menghitung perkalian dengan menggunakan metode jarimatika. Peneliti menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang perkalian dengan menentukan kalimat Matematikanya kemudian menghitungnya dengan metode jarimatika. peneliti membagi siswa dalam kelompok dan masing-masing kelompok terdiri atas 2 anak.
Pada awal kegiatan kerja kelompok, suasana kelas sudah kelihatan tenang setelah peneliti mempersilahkan setiap pasangan untuk memperagakan hasil jawabannya di depan teman-temannya dengan menggunakan jaritangan masing-masing. Berikut adalan gambaran kerja kelompok sampai pada memperagakannya.
Anak-anak sudah mulai mengerti dengan tugasnya, kelompoknya tetapa bu..., iya. Beberapa siswa berjalan mencari teman kelompoknya masing-masing,dengan langsung mengubah posisi tempat duduknya.Peneliti menginformasikan sudah sekarang kerjakan soalnya bersama kelompok masing-masing, nanti kalau sudah selesai maju secara bergantian dari perwakilan kelompok untuk mendemonstrasikan jawaban dari soal-soalkalian[6]
c. Penilaian Hasil Tindakan siklus II
Pengamat peneliti melakukan observasi sesuai dengan petunjuk pada lembar observasi, yaitu dengan menggunakan tanda (√) pada kolom yang disediakan. Hasil observasi yang dilakukan observer dianalisis dengan menggunakan pedoman penskoran. Data dari hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Skor yang diperoleh pada masing-masing aktivitas disebut dengan jumlah skor, sedangkan skor ideal masing-masing aktivitas disebut skor maksimal. Selanjutnya dihitung skor perolehan dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal dan dikalikan 100%. Berikut merupakan paparan data mengenai aktivitas peneliti dalam pembelajaran berdasarkan hasil observasi.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode jarimatika pada siklus II, sebagian indikator pembelajaran telah tercapai. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti dari semua observer terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer I terhadap aktivitas peneliti dalam melaksanakan pembelajaran pada tabel tersebut diatas, jumlah skor yang diperoleh adalah 60 dari skor maksimal 68. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
2) Aktivitas Siswa Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus II
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode Jarimatika pada siklus II, sebagian besar indikator pembelajaran sudah tercapai. Terlihat adanya peningkatan ketercapaian indikator dari siklus sebelumnya. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan siswa dari semua observer yang terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada tabel di atas, jumlah skor yang diperoleh adalah 61 dari skor maksimal 72. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
Hasil perhitungan persentase diatas menunjukkan bahwa aktivitas siswa termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Kegiatan yang dapat dilihat dalam lembar observasi tersebut bukan berarti proses pembelajaran berjalan dengan baik, karena masih ada siswa yang belum melakukan aktivitas diatas. Hal yang belum dilakukan sepenuhnya adalah:
a) Kurang tanggap dalam mengerjakan contoh soal yang diberikan
guru
b) Kurangmemperhatikan kesimpulan hasil pembelajaran yang
disampaikan oleh guru.
3) Hasil tes akhir siklus II
Tabel 4.3Data Frekuensi Hasil Evaluasi Matematika Setelah Menggunakan Metode Jarimatika Pada Silkus II
|
No
|
Interval
Skor
|
Frekuensi
|
Persentase
|
Predikat
|
|
1.
|
70 - 100
|
18
|
90
|
Tuntas
|
|
2.
|
0 - 67
|
2
|
10
|
Tidak Tuntas
|
|
Jumlah
|
20
|
100
|
|
|
Dari data di atas peneliti juga memerlukan informasi tentang rata-rata skor tes pada siklusII, untuk itu peneliti harus menjumlahkan seluruh skor tes para siswa selanjutnya membaginya dengan jumlah seluruh siswa. Sehingga diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusII sebesar 85,80.
Data perbandingan frekuensi hasil tes evaluasi akhir siklus I dan siklus II berdasarkan hasil tes dapat dilihat pada tabel berikut,
Tabel 4.4Daftar Kesimpulan Per Aspek Penilaian Belajar Tiap Siklus
|
No
|
Aspek
|
Siklus
|
Keterangan
|
|
|
I
|
II
|
|||
|
1.
|
Tuntas Belajar
|
14 (70%)
|
18 (90%)
|
|
|
2.
|
Tidak Tuntas Belajar
|
6 (30%)
|
2 (10%)
|
|
|
3.
|
Skor Rata-rata
|
78,20
|
85,80
|
|
(a) Ketuntasan belajar mengalami kenaikan pada siklus berikutnya, dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebanyak 4 siswa atau 28,57% (perhitungan berasal dari 4 siswa dibagi 14 siswa dikalikan 100%);
(b) Skor tes rata-rata mengalami kenaikan pada siklus berikutnya, dari siklus I ke siklus II terjadi kenaikan sebesar 7,60 (dari perhitungan 85,80 – 78,20).
c. RefleksiMenurut hasil observasi terhadap aktivitas peneliti dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas peneliti telah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu 88%. Hal ini berarti bahwa kriteria keberhasilan aktivitas peneliti pada tindakan ini mencapai kriteria “sangat baik”. Sedangkan hasil observasi terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga mencapai keberhasilan, yaitu 85% yang berarti mencapai kriteria “sangat baik”. Dari hasil observasi tersebut, telah menampakkan hasil yang diharapkan dan meningkat dari tindakan sebelumnya.
Hasil tes akhir siklus II diketahui bahwa ketuntasan siswa meningkat dari tes akhir siklus I. Siswa yang mendapat nilai ≥70 sebanyak 18 siswa dari 20 siswa, dengan demikian ketuntasan belajar setelah melaksanakan pembelajaran Jarimatika adalah 90% dan diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklus II sebesar 85,80, yang berarti telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dan telah mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya. Dengan persetujuan dua teman sejawat sebagai observer, kegiatan pembelajaran dihentikan.
B. Temuan PenelitianBeberapa temuan penelitian yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, hasil observasi, dan hasil tes akhir setiap tindakan adalah sebagai berikut:
1. Temuan pada siswa
a) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah memahami materi dengan baik, karena pembelajaran dilakukan dengan permainan memperagakan jari tangan masing-masing yang membuat siswa tidak tegang dalam memahami materi atau menghitung suatu perkalian.
b) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah dan cepatuntuk menghitung perkalian, karena cuma menggerakkan jari-jari tangannya yang sesuai dengan lambangnya secara beulang-ulang membuat siswa lebih mudah dalam mengingat konsep materi perkalian dan lebih cepat dalam menghitung perkalian.
c) Membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa mau berusaha mendemonstrasikan dan mengerjakan soal yang mereka peroleh dengan cepat, dan antusias dalam memperagakannya.
2. Temuan pada guru
a) Guru selalu memberi motivasi kepada siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar matematika
b) Guru dapat menguasai kelas dengan baik, hal ini terlihat ketika ada siswa yang kurang memperhatikan
c) Guru dapat mengaitkan materi dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
3. Temuan pada siswa
d) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah memahami materi dengan baik, karena pembelajaran dilakukan dengan permainan memperagakan jari tangan masing-masing yang membuat siswa tidak tegang dalam memahami materi atau menghitung suatu perkalian.
e) Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah dan cepatuntuk menghitung perkalian, karena cumamenggerakkan jari-jari tangannya yang sesuai dengan lambangnyasecara beulang-ulang membuat siswa lebih mudah dalam mengingat konsep materi perkalian dan lebih cepat dalam menghitung perkalian.
f) Membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa mau berusaha mendemonstrasikan dan mengerjakan soal yang mereka peroleh dengan cepat, dan antusias dalam memperagakannya.
4. Temuan pada guru
d) Guru selalu memberi motivasi kepada siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar matematika
e) Guru dapat menguasai kelas dengan baik, hal ini terlihat ketika ada siswa yang kurang memperhatikan
f) Guru dapat mengaitkan materi dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
[1] Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari selasa, Tanggal 5 Agustus 2014.
[2]Ibit
[3]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari Rabu, Tanggal 6 Agustus 2014.
[4]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari Rabu, Tanggal 7 Agustus 2014.
[5]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari Senin, Tanggal 11 Agustus 2014.
[6]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari Selasa, Tanggal 12 Agustus 2014.


