Jumat, 13 Februari 2015

penelitian

BAB IVPAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIANA.      Paparan Data
1.    Deskripsi Obyek Penelitiana.         Sejarah Madrasah btida’iyah Miftahul HudaPada tanggal 01 Januari 1969 atas prakarsa beberapa tokoh desa didirikan  lembaga pendidikan Islam tingkat dasar atas nama Madrasah Ibtidaiyah yang merupakan salah satu dari bagian Lembaga Pendidikan  Ma’arif NU cabang  Malang. Di antara tokoh-tokoh pendiri dan perintis Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda dapat dilihat pada table berikut :Tabel 4.1Tokoh Pendiri Dan Perintis Madrasah Ibtidaiyah Miftahul                        Huda Ngasem-Ngajum Malang 
No
Nama
Alamat
Keterangan
1
H. Abdul Rohim
Ngasem
Pengurus NU
2
H. Mahmud
Ngasem
Tokoh masyarakat
3
H. Ihsan
Ngasem
Tokoh masyarakat
4
Asmuji
Ngasem
Tokoh masyarakat
5
H. Umar
Ngasem
Ulama
6
Munasir
Ngasem
Mantan kepala desa
7
Kh. Chalimi
Ngasem
Ulama
8
Imron Rosadi
Ngasem
Ansor
 Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2013Dalam musyawarah para tokoh dan perintis tersebut dihasilkan susunan pengurus sebagai berikut :Tabel 4.2 Pengurus Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda NgasemNgajum Malang Tahun 1969 
No
Nama
Alamat
Keterangan
1
Kepala Desa
Ngasem
Pelindung
2
H. Umar
Ngasem
Penasehat
3
H. Abdul Rohim
Ngasem
Ketua I
4
H. Ihsan
Ngasem
Ketua II
5
Munasir
Ngasem
Sekretaris I
6
Imron Rosadi
Ngasem
Sekretaris II
7
H. Mahmud
Ngasem
Bendahara I
8
Abdul Kholik
Ngasem
Bendahara II
9
Asmuji
Ngasem
Anggota
10
M. Djazuli
Ngasem
Anggota
11
Siamin
Ngasem
Anggota
12
Laseri
Ngasem
Anggota
 Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2013 Setelah terbentuk susunan pengurus, kemudian para pendiri dan pengurus melakukan musyawarah secara bersama-sama untuk merekrut beberapa orang yang dianggap mampu untuk menjadi tenaga pengajar dan dengan suka rela mengabdikan diri di madrasah ini.Dari hasil perekrutan tersebut diperoleh 8 tenaga pengajar yang sekaligus sebagai pengelola operasional madrasah dengan menunjuk salah satu sebagai kepala madrasah, yaitu :Tabel 4.3 Tenaga Pengajar Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda NgasemNgajum Malang Tahun 1969 
No
Nama
Alamat
Keterangan
1
Munasir
Ngasem
Kepala Madrasah
2
Kh. Chalimi
Ngasem
Waka. Madrasah
3
Imron Rosadi
Ngasem
Guru
4
Kuzaini
Ngasem
Guru
5
Abdul Kholik
Ngasem
Guru
6
Muhsin
Ngasem
Guru
7
Ismail
Ngasem
Guru
8
Muhiyin
Ngasem
Guru
Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2013Latar belakang berdirinya lembaga pendidikan MI Miftahul Huda adalah :1)      Kebutuhan masyarakat akan adanya suatu lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas Islam.
2)      Pengembangan dakwah Islamiyah dalam rangka menciptakan manusia yang berkualitas, beriman  dan bertaqwa.
3)      Membantu anak-anak miskin dan yatim piatu agar dapat mengikuti pendidikan yang dibutuhkan.Terwujudnya lembaga pendidikan MI Miftahul Huda desa Ngasem kecamatan Ngajum kabupaten Malang mempunyai tujuan disamping untuk membentuk manusia yang paripurna juga serta melaksanakan program pendidikan Nasional supaya menjadi warga Negara yang baik.
Lembaga pendidikan ini selain mengikuti kurikulum dari Departemen Agama , juga mengikuti kurikulum pesantren ( Madrasah Diniyah ). Hal ini berjalan sejak berdiri sampai pada tahun 1987.proses belajar mengajar dilaksanakan siang hari setelah sholat dhuhur yaitu pukul 12.30 sampai dengan sore hari pukul 17.00.Pada tahun 1988 lembaga ini mulai memilah antara madrasah diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah ( sederajat dengan Sekolah Dasar ). Untuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah masuk pagi pukul 07.00 sampai 12.30.dan untuk Madrasah Diniyah masuk sore.Perubahan ini merupakan tindakan positif untuk memenuhi kurikulum yang diberlakukan oleh Departemen Agama.Dan sejak tahun 1993 atas usaha dari pengelola dan pengurus, Madrasah ini mendapat status terdaftar berdasar pada surat keputusan Kepala Departemen Agama Kabupaten Malang tertanggal 12 Juli 1993 nomor : M. m.16/05.00/PP.004/778/SK/1993.Selanjutnya pada tanggal 25 Mei 1996 Madrasah mengajukan akreditasi lagi, yang selanjutnya ditindak lanjuti oleh tim dari Lembaga Ma’arif dan Departemen agama pada tanggal 9 Desember 1996. Dari hasil penilaian tersebut turun surat keputusan nomor M. m. 16/05.03/PP.03.2/002/SKP/1997 tertanggal 4 Januari 1997 yang menyatakan bahwa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang resmi berstatus diakui.Perubahan status Madrasah ini menjadikan semangat bagi para pengelola untuk mengembangkan Madrasah. Akhirnya atas saran dari Departemen agama dan juga keinginan pengelola untuk menjadikan Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang layak, maka pada tanggal 25 Desember 2001 mengajukan akreditasi lagi. Dan pada tanggal 30 Januari 2002 datang tim dari Lembaga Ma’arif dan Departemen Agama untuk melakukan penilaian dan kelayakan Madrasah. Selanjutnya keluar surat keputusan dari Departemen agama Kabupaten Malang tertanggal 27 Pebruari 2002 nomor : M. m. 16/05.03/PP.03.2/125/2002 tentang peresmian Madrasah Miftahul Huda sebagai lembaga pendidikan berstatus disamakan. Setelah berstatus disamakan para guru dan pengurus semakin bersemangat untuk menjadikan madrasah lebih maju dan berkembang. Setelah dirasa madrasah telah memenuhi standar pendidikan maka pada tahun 2010 mengajukan akriditasi pada Badan Akriditasi Nasional ( BAN-S/M ). Selanjutnya keluar surat keputusan dari BAN-S/M tertanggal 03 November 2011 yang menyatakan bahwa Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda terakriditasi B.Dengan berubahnya status ini harapan para pengelola dan masyarakat agar siswa dan calon siswa lebih tertarik untuk melanjutkan masuk di madrasah ini, sehingga secara kuantitas bertambah banyak dan secara kualitas dapat dihandalkan.b.    Visi, misi dan tujuan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda1)   Visi Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda :Terwujudnya generasi muslim yang beriman, berilmu dan beramal sholeh,serta memiliki daya saing dalam bidang IPTEK dan berwawasan lingkungan.2)   MISI Madrasah Ibtida’iyah Miftahul HudaMenumbuhkembangkan sikap, perilaku dan amaliah keagamaanIslam di madrasaha)    Menumbuhkembangkan semangat belajar ilmu keagamaan Islam
b)   Melestarikan,mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam     berfaham Ahlussunah Waljama’ah
c)    Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran secara PAIKEMI
(Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan
danIslami).
d)   Menumbuhkan semangat keunggulan secara inensif dan daya saing
yang sehat kepada seluruh warga madrasah, baikprestasi akademikmaupun non-akademik.e)    Menciptakan lingkungan madrasah yang sehat, bersih, rindang, indah,
nyaman, kondusif dan menyenangkan.f)    Mengembangkan kecakapan hidup (life skills) dalam setiap aktifitas-
aktifitas pendidikan.g)   Mengembangkan sikap kepekaan peserta didik terhadap lingkungan.
h)   Mewujudakan madrasah sebagai lembaga pendidikan berciri khas
agama Islam yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
3)   Tujuan Madrasah Ibtida’iyah Miftahul hudaa)    Meningkatkan pengamalan 5 S (salam, senyum, sapa, sopan dan
santun)pada seluruh warga madrasah.b)   Meningkatkan pengamalan sholat dhuhur berjama’ah di madrasah.c)    Meningkatkan kemahiran membaca, menulis dan Qur’an.
d)   Meningkat nilai rata-rata UASBN secara berkelanjutan.e)    Mewujudkan duta madrasah dalam ajang berprestasi di bidang
akademik maupun non-akademik di tingkat kecamatan dan kabupaten
f)     Meningkatkan kepedulian warga madrasah akan kesehatan, kebersihan,kenyamanan dan keindahan lingkungan madrasah.g)    Meningkatkan kuantitas peserta didik dalam PSB.h)   Meningkat jumlah sarana/ prasarana serta pemberdayaannya yang
mendukung peningkatan prestasi akademik dan non-akademik.i)Meningkatkan kualitas kinerja guru dan pegawai dalam mendukung
prestasi akademik dan non akademik peserta didik (siswa).j) Mewujudkan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang sangatdiminati dan dibutuhkan oleh masyarakat luas.k)   Menggalang kerjasama dengan dunia usaha dalam rangka
peningkatan kesejahteraan guru dan pegawai madrasah.c.    Keadaan tenaga pengajar dan karyawan MI Miftahul HudaTenaga pengajar dalam hal ini adalah guru di MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang. Pada saat dilaksanakan penelitian guru di MI Miftahul Huda sudah memadai, jumlah siswa sudah seimbang dengan jumlah guru, begitu juga untuk masing-masing bidang studi ( pelajaran ).Sementara itu tenaga administrasi pada lembaga ini masih minim.Sehingga sebagian guru juga ikut membantu mengerjakan tugas administrasi demi kelancaran dan berjalannya lembag ini. Data mengenai tenaga pengajar dan karyawan dapat dilihat pada table berikut ini:
      Tabel 4.4 Jumlah Tenaga Pengajar Dan Karyawan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015
No
Tenaga Pengajar
Jumlah
1
Laki – laki
5 orang pengajar
2
Perempuan
11 orang pengajar
3
Perempuan
1 orang TU
 Sumber :Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2014d.   Struktur organisasi MI Miftahul HudaStruktur organisasi MI Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang dapatdilihat pada bagan di bawah ini :Struktur Organisasi Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015
                                                                                                                                 
Wali kls 1

 
Wali kls 2

 
Wali kls 3

 
Wali kls 4

 
Wali kls 5

 
Wali kls 6

 
        








e.    Keadaan siswa MI Miftahul HudaJumlah siswa di MI Miftahul Huda tergolong cukup banyak untuk pendidikan di dasar tingkat desa.Jumlah keseluruhan siswa MI MIftahul Huda sebanyak 178 siswa, yang terbagi menjadi tujuh kelas. Data tentang siswa MI Miftahul Huda dapat dilihat pada tebel berikut : Tabel 4.5 Data Siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Ngasem     Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015 
NO
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
I-A
10
12
22
2
I-B
10
12
22
3
II
13
20
33
4
III-A
14
4
18
5
III-B
7
12
19
6

14
17
31
7
V
10
21
31
8
VI
18
9
27
Jumlah
99
112
203
Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2014 f.     Sarana prasarana MI Miftahul HudaMadrasah sebagai tempat belajar tentu memiliki berbagai fasilitas atau sarana dan prasarana yang bermanfaat khususnya untuk kelancaran proses belajar mengajar. Selain itu sarana dan prasarana yang tersedia juga diharapkan berguna untuk kepentingan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan masyarakat. Adapun sarana dan prasarana yang tersedia di MI Miftahul Huda antara lain :    Tabel 4.6 Sarana Dan Prasarana Madrasah Ibtidaiyah Miftahul HudaNgasem Ngajum Malang Tahun Pelajaran 2014/2015
No
Sarana prasarana
Jumlah
Keadaan
1
Ruang kepala madrasah
1 buah
Baik
2
Ruang guru dan TU
1 buah
Baik
3
Ruang Tamu
1 buah
Baik
4
Ruang belajar
8 buah
Baik
5
Perpustakaan
1 buah
Baik
6
Ruang UKS
1 buah
Baik
7
Ruang laboratorium Komputer dan IPA
1 buah
Baik
8
Ruang koperasi sekolah
1 buah
Baik
9
Lapangan olah raga
1 buah
Baik
10
Kamar mandi dan WC guru
1 buah
Baik
11
Kamar mandi dan WC siswa
2 buah
Baik
12
Dapur
1 buah
Baik
13
Gudang
1 buah
Baik
Sumber : Dokumentasi MI Miftahul Huda, Tahun 2014 2.    Paparan Data Siklus I
          Pembelajaran  siklus I terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam siklus I adalah agar siswa dapat melakukan perkalian 1 angka dan 1 angka, 2 angka dan 1 angka, 2 angka dan 2 angka, dan memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan perkalian. Alokasi waktu pada siklus ini adalah 3x35 menit.
a.    Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan peneliti mengadakan observasi terhadap proses pembelajaran  dan  prestasi  belajar  Matematika pada kelas III-B untuk mengetahui media, metode, strategi pembelajaran yang telah digunakan oleh guru, serta proses pembelajaran yang telah berlangsung. Peneliti juga mencatat hasil belajar yang diperoleh oleh masing-masing siswa.
Berdasarkan pengamatan dan hasil catatan terhadap proses pembelajaran dan prestasi belajar sebelum tindakan, dapat diperoleh informasi sebagai data awal. Hasil pencatatan menunjukkan bahwa dari 20 siswa kelas III-B terdapat 11 siswa atau sekitar 55% yang masih belum mampu berhitung perkalian. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai siswa yang belum mencapai nilai 70 (KKM). Oleh karena itu, peneliti dan teman sejawat mendiskusikan rancangan tindakan yang akan dilakukan pada penelitian ini. Dan diperoleh kesepakatan bahwa pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan dengan alokasi waktu tiap pertemuan 2 x 35 menit yaitu pada tanggal 5, 6 dan 7Agustus 2014.Dengan berpedoman pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI 2006 Kelas III. Peneliti melakukan langkah-langkah perencanaan pembelajaran Matematika dengan menerapkan teknik jarimatika sebagai berikut:
1.      Mempelajari KTSP dan Silabus Kelas III SD/MI
Standar Kompetensi: I. Melakukan Operasi Hitung Bilangan sampai
                                      tiga angka.
Kompetensi Dasar: 1.3 Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya                                             bilangantiga angka.
2.      Peneliti bersama dengan guru merancang Rencana PelaksanaanPembelajaran (RPP) dengan beberapa indikator sebagai berikut:1.3.1 Mampu melakukan perkalian satu angka dan satu angka.
1.3.2 Mampu melakukan perkalian dua angka dan satu angka.1.3.3 Mampu melakukan perkalian dua angka dan dua angka
  1.3.4  Mampu memecahkan  masalah sehari-hari yang melibatkan   
          perkalian.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilaksanakan tiga kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dalam waktu dua jam pelajaran (2 x 35 menit).3.      Peneliti dan Guru membuat LKS dan lembar evaluasi.
4.      Menyediakan alat peraga berupa permen untuk penjumlahan berulang,
dan selebihnya menggunakan jari tangan masing-masing.5.      Membuat lembar observasi guru dan siswa.b.   Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknik jarimatika sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. Pembelajaran pada siklus I dilaksanakan 3 kali pertemuan.
1)      Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2014.Pada pertemuan ini materi yang diajarkan adalah mengenal perkalian sebagai penjumlahan berulang.Sebagai kegiatan awal peneliti dan siswa berdoa bersama, mengkondisikan kelas, mengabsen siswa, dan melakukan apersepsi.Pada awal pembelajaran suasana kelas sangat hening, tapi ketika peneliti menanyakan kepada siswa tentang penjumlahan bilangan “5 + 5 = ..., 6 + 6 + 6 = ... “. Suasana berubah menjadi sedikit gaduh. Berikut adalah gambaran awal pembelajaran,
  beberapa siswa berteriak-teriak gampil.. gampil bu,(mudah bu)
kayak kelas satu aja bu...bu, beberapa siswa terus berteriak-teriak sampai peneliti berdiri dari tempat duduk sambil bertepuk tangan sebanyak tiga kali dan berteriak mengucapkan sudah...sudah...ayo diam jangan ramai aja, ayo coba angkat tangan siapa yang mau menjawab. Muhim kemudian angkat tangan dan menjawab ada 10 bu, lalu minan mengangkat tangannya juga saya bu.. yang kedua ada18. Bagus pintar sekali kalian.[1] Peneliti melanjutkan menjelaskan perkalian sebagai penjumlahan berulang. Peneliti memberi contoh menghitung perkalian dengan menggunakan permen selanjutnya sampai siswa mengerjakan evaluasi. Berikut adalah gambaran dalam kegiatan belajar.
Zulfi kembali berulah berbisik-bisik kepada teman kiri kanannya, sambil berbicara, wah nanti kita mendapat permen dari bu guru kalau kita bisa mengerjakan tapi gimana ya, minan berkomentar kamu itu Zul pikirannya cuma makan aja. Ayo coba maju sana kerjakan dipapan tulis, gah gak mau aku gak bisa. Peneliti berkata sudah ayo siapa yang mau maju nanti ibu kasih permennya, Minan sama Muhim bersamaan mengacungkan tangannya. Baik ayo maju bersama kerjakan soalnya satu-satu. Kemudian peneliti memberikan soal evaluasi suasana menjadi sunyi, karena semua siswa serius mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh peneliti.[2]                                                                                                      
Peneliri kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian memberikan pekerjaan rumah. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
 2)     Pertemuan KeduaPertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus 2014. Pada pertemuan yang ke-2 ini pembelajaran direncanakan dengan menggunakan metode jarimatika, materi yang diajarkan adalah mengalikan bilangan 6-10 dengan berbagai cara. Pada kegiatan ini peneliti memperkenalkan jarimatika kepada siswa. Peneliti mendemonstrasikan formasi jarimatika bilangan 6-10 dengan menggunakan tangan dan meminta siswa untuk menirukan. Berikut gambaran suasananya,
Ayo anak-anak coba perhatikan bu guru mau memperagakan cara menghitung perkalian dengan menggunakan jari-jari ibu, nanti kalian sambil menirukan ya..., selanjutnya peneliti menuliskan beberapa soal di papan tulis siapa yang bisa maju, lagi-lagi yang maju Minan, Muhim, Della, Ahmad dan Devi. Bagus pintar sekali kalian ayo yang lain mana kok gak berani maju, Fajar menjawab, takut bu.. takut salah. Oh..o..o.. gak apa-apa jangan takut salah siapa yang mencoba pasti akan bisa [3] Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian memberikan pekerjaan rumah. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
3)      Pertemuan Ketiga
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 2014.Pada pertemuan yang ke-3 ini pembelajaran direncanakan dengan menggunakan metode jarimatika, materi yang diajarkan adalah menyelesaikan masalah yang melibatkan perkalian dengan mengaitkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perkalian.Pada kegiatan ini, peneliti mengulangi menjelaskan formasi jari tangan dengan metode jarimatika dan mendemonstrasikan menghitung perkalian dengan menggunakan metode jarimatika.Peneliti menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang perkalian dengan menentukan kalimat Matematikanya kemudian menghitungnya dengan metode jarimatika. peneliti membagi siswa dalam kelompok dan masing-masing kelompok terdiri atas 2 anak.
Pada awal kegiatan kerja kelompok, suasana kelas menjadi agak gaduh setelah peneliti mempersilahkan setiap pasangan untuk memperagakan hasil jawabannya di depan teman-temannya dengan menggunakan jaritangan masing-masing. Berikut adalan gambaran kerja kelompok sampai pada memperagakannya.
Beberapa siswa berjalan mencari teman kelompoknya, sebagian anak berteriak memanggil temannya... Mat, sini... kamu dengan aku mari duduk di bangku depan sana aja teriak zulfi memanggil teman untuk dijadikan kelompoknya. Sebagian siswa lain nampak menggeser kursi hingga suasana gesekan kursi dan lantai bertambah ramai sambil memangil temannya untuk dijadikan kelompoknya, lagi-lagi bu guru beranjak dari tepat duduknya sambil bertepuk tangan dan berteriak mengucapkan sudah...sudah... ayo duduk yang rapi dan mulai kerjakan soalnya, nanti setelah selesai diperagakan di depan secara bergantian [4] Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian memberikan lembar evaluasi siklus I untuk dikerjakan secara individu. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
c.    Penilaian Hasil Tindakan Siklus I
Penilaian tindakan ini meliputihasil observasi aktivitas guru atau peneliti dan observasi aktivitas siswa, serta hasil tes akhir siklus I. Untuk lebih jelasnya hasil observasi aktivitas peneliti, hasil observasi aktivitas siswa, dan hasil tes akhir siklus I, dalam pembelajaran ini dideskripsikan sebagai berikut:1)        Aktivitas Peneliti Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus I.
Aktivitas peneliti pada pelaksanaan siklusI berlangsung sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya, sebagian besar indikator kegiatan sudah tercapai dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut.Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti.Peneliti telah berhasil memberikan bimbingan kepada siswa dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
Pengamat peneliti melakukan observasi sesuai dengan petunjuk pada lembar observasi, yaitu dengan menggunakan tanda (√) pada kolom yang disediakan. Hasil observasi yang dilakukan observer dianalisis dengan menggunakan pedoman penskoran. Data dari hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Skor yang diperoleh pada masing-masing aktivitas disebut dengan jumlah skor, sedangkan skor ideal masing-masing aktivitas disebut skor maksimal. Selanjutnya dihitung skor perolehan dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal dan dikalikan 100%. Berikut merupakan paparan data mengenai aktivitas peneliti dalam pembelajaran berdasarkan  hasil observasi.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode Jarimatikapada siklus I. Sebagian indikator pembelajaran telah tercapai. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti dari semua observer terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapa dilihat pada tabel yang sudah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer I terhadap aktivitas peneliti dalam melaksanakan pembelajaran pada tabel tersebut diatas, jumlah skor yang diperoleh adalah 57 dari skor maksimal 68. Dengan demikian persentaseskor adalah :
Persentase nilai rata-rata (Y) =
                                                            =
                                                    
 Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas guru termasuk dalam kategori “sangat baik”. Hal ini menunjukkan taraf  keberhasilan peneliti selama pembelajaran berdasarkan observasi berada dalam kategori sangat baik, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas peneliti sudah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
2)        Aktivitas Siswa Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus I
 Pada kegiatan pembelajaran siklus I, siswa terlibat cukup serius mengikuti kegiatan pembelajaran. Kondisi tersebut dapat dilihat pada lembar observasi aktivitas siswa yang diobservasi oleh teman sejawat sebagai pengamat I dan pengamat II. Hasil observasi aktivitas siswa dianalisis dengan menggunakan analisis data yang sama seperti analisis data hasil observasi aktivitas peneliti yaitu analisis persentase. Berikut ini adalah paparan data mengenai hasil pengamatan terhadap siswa.Hasil observasi yang dilakukan kedua pengamat terlihat bahwa siswa sangat tertarik belajar perkalian karena dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan hal-hal yang dapat dihitung dengan menggunakan perkalian.Siswa juga terlihat percaya diri untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya  jika mengalami kesulitan ataupun mengetahui informasi baru. Tetapi masih kebingungan ketika dipersilahkan membuat soal dan berdiskusi bersama pasangannya. Hal ini karena siswa belum terbiasa menghitung secara cepat dan adanya rasa takut jika jawabannya salah.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan motode Jarimatika pada siklus I, sebagian besar indikator pembelajaran sudah tercapai, namun perlu ditingkatkan lagi. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi  kegiatan siswa dari semua observer yang terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada tabel di atas, jumlah skor yang diperoleh adalah 53dari skor maksimal 72. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
       =
Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa hasil observasi aktivitas siswa termasuk dalam kategori “Baik”. Kegiatan yang dapat dilihat dalam  lembar observasi tersebut bukan berarti proses pembelajaran berjalan dengan baik, karena masih ada siswa yang belum melakukan aktivitas diatas. Hal yang belum dilakukan sepenuhnya adalah:
a)    Kurang memperhatikan topik, tujuan dan rencana pembelajaran
 yang disampaikan
b)    Tidak mencatat langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan
 dalam pembelajaran  Jarimatikac)    Kurang tanggap dalam mengerjakan contoh soal yang diberikan
guru
d)   Tidak  memperhatikan kesimpulan hasil pembelajaran yang
 disampaikan oleh guru
3)        Hasil tes akhir siklus I
Peneliti  menginginkan informasi tentang besarnya siswa yang tuntas dan tidak tuntas setelah pelaksanaan siklus I, maka data perolehan hasil belajar siswa harus dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran Matematika yang ditetapkan oleh MI Miftahul Huda tersebut. Jika KKM mata pelajaran Matematika sebesar 70, maka penyajian datanya adalah sebagaimana tabel berikut,
Tabel 4.1 Data Frekuensi Hasil Evaluasi Matematika Setelah
                 Menggunakan Teknik Jarimatika Pada Siklus I
No
Interval Skor
Frekuensi
Persentase
Predikat
1.
70 - 100
14
70
Tuntas
2.
0 - 67
6
30
Tidak Tuntas
Jumlah
20
100

 Dengan demikian diperoleh informasi bahwa dari 20 siswa yang mengikuti tes siklusI sebanyak 14 siswa atau 70% dinyatakan tuntas, dan sebanyak 6 siswa atau 30% dinyatakan tidak tuntas.
            Dari data di atas peneliti juga memerlukan informasi tentang rata-rata skor tes pada siklusI, untuk itu peneliti harus menjumlahkan seluruh skor tes para siswa selanjutnya membaginya dengan jumlah seluruh siswa. Sehingga diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusI sebesar 78,20 meskipun telah mengalami peningkatan dari sebelum diadakan tindakan. Karena ketuntasan klasikal dalam penelitian ini adalah 85%, sehingga akan dilanjutkan pada siklus II agar hasil belajar dapat meningkat dan mencapai ketuntasan belajar klasikal yang telah ditentukan.
Data frekuensi peningkatan hasil evaluasi Matematika sebelum dan setelah menggunakan teknik jarimatika pada siklus I dapat dilihat pada tabel.Tabel 4.2 Persentase Skor Tes Awal dan Skor Tes Akhir Siklus I
No
Interval Skor
Skor Awal
Skor Akhir Tes SiklusI
Prediksi
Frekuensi
Persentase
Frekuensi
Persentase
1.
70-100
10
50
14
70
Tuntas
2.
0-69
10
50
6
30
Tidak Tuntas
Jumlah
20
100
20
100

 d.   Refleksi
 Menurut hasil observasi terhadap aktivitas peneliti dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas peneliti telah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu 83%. Hal ini berarti bahwa kriteria keberhasilan aktivitas siswa pada tindakan ini mencapai kriteria “sangat baik”. Sedangkan hasil observasi terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga mencapai keberhasilan, yaitu 74% yang berarti mencapai kriteria “baik”. Dari hasil observasi tersebut, terlihat bahwa tindakan pada siklus I telah menampakkan hasil yang diharapkan. Namun, hasil tes akhir siklus I diketahui bahwa ketuntasan belajar siswa mencapai 70% yang artinya masih 70% dari total seluruh siswa memperoleh nilai  70, dan diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusI sebesar 78,20 meskipun telah mengalami peningkatan dari sebelum diadakan tindakan. Karena ketuntasan klasikal dalam penelitian ini adalah 85%, sehingga dengan persetujuan dua teman sejawat sebagai observer, kegiatan pembelajaran akan dilanjutkan pada siklus II agar hasil belajar dapat meningkat dan mencapai ketuntasan belajar klasikal yang telah ditentukan.
3.    Paparan Data Siklus IIPada siklus I hasil pembelajaran kemampuan berhitung perkalian masih belum tuntas. Oleh karena itu, kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilanjutkan ke siklus II dengan harapan pada siklus II dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan pada siklus I. Kegiatan penelitian tindakan pada siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan. Kegiatan dari siklus II ini adalah sabagai berikut:a.    Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan pada siklus I telah diketahui bahwa ada peningkatan kemampuan berhitung siswa terhadap materi pembelajaran Perkalian tetapi belum maksimal. Hal-hal yang perlu diperbaiki guru adalah sebagai berikut: memberikan arahan kembali kepada siswa tentang formasi jarimatika atau langkah-langkah yang digunakan dalam pembelajaran menggunakan metode jarimatika, pada saat pembelajaran peneliti meminta siswa maju secara acak dalam mendemonstrasikan formasi jarimatika dan menghitung perkalian dengan menggunakan teknik jarimatika. Selain itu, peneliti memberikan konsep angka yang lebih sulit agar kemampuan berhitung siswa lebih meningkat.
Dengan berpedoman pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/MI 2006 Kelas III. Peneliti melakukan langkah-langkah perencanaan pembelajaran Matematika dengan menerapkan teknik jarimatika sebagai berikut:1.      Mempelajari KTSP dan Silabus Kelas III SD/MI
Standar Kompetensi: I. Melakukan Operasi Hitung Bilangan sampai
tiga angka.
Kompetensi Dasar: 1.3 Melakukan perkalian bilangan yang hasilnyabilangantiga angka.
2.      Peneliti bersama dengan guru merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan beberapa indikator sebagai berikut:1.3.1 Mampu melakukan perkalian satu angka dan satu angka.
1.3.2 Mampu melakukan perkalian dua angka dan satu angka.1.3.3 Mampu melakukan perkalian dua angka dan dua angka
1.3.4 Mampu memecahkan  masalah sehari-hari yang melibatkan   
perkalian.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilaksanakan dua kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dalam waktu dua jam pelajaran (2 x 35 menit).
3.      Peneliti dan Guru membuat LKS dan lembar evaluasi.
4.      Menyediakan alat peraga berupa sedotan untuk penjumlahan berulang,
dan selebihnya menggunakan jari tangan masing-masing.5.      Membuat lembar observasi guru dan siswa.
  b.   PelaksanaanTindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknik jarimatika sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. Pembelajaran pada siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan:
1)        Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 2014.Pada pertemuan ini materi yang diajarkan adalah fakta dasar perkalian. Pada awal pembelajaran peneliti menanyakan kepada siswa tentang penjumlahan bilangan ”3 + 3 = ...., 4 + 4 + 4 =...., 5 + 5 + 5 + 5 =....”. Selanjutnya peneliti menjelaskan perkalian sebagai penjumlahan berulang. Guru memberi contoh menghitung perkalian dengan menggunakan sedotan (bilangan 1-5).Peneliti menggali pengalaman siswa dalam pertemuan yang lalu dengan beberapa pertanyaan lisan. Guru menentukan masalah yang mengkaitkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perkalian. Gambaran kegiatan belajar pada pertemuan 1 siklus II adalah sebagai berikut,
Suasana belajar sangat menyenangkan ketika peneliti mendemonstrasikan menghitung perkalian dengan menggunakan metode  Jarimatika yang diselingi dengan tepuk konsentrasi, hai  nanda, bilal, fajar kenapa tidak  berkonsentrasi berbicara sendiri aja, ayo anak tiga itu maju coba kerjakan soal di papan tulis itu sambil didemonstrasikan dengan menggunakan jari tangan masing-masing, sekarang kalian mau berkonsentrasi apa tidak, iya..iya bu maaf kata bilal sambil berlari duduk kembali ketempatnya.[5]Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian peneliti menutup pembelajaran Matematika.
2)        Pertemuan KeduaPertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 12Agustus 2014.Pada pertemuan yang ke-2 ini pembelajaran direncanakan dengan menggunakan metode jarimatika, materi yang diajarkan adalah menyelesaikan masalah yang mengandung perkalian dengan mengaitkan pada pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perkalian.Pada kegiatan ini, peneliti mengulangi menjelaskan formasi jari tangan dengan metode jarimatika dan mendemonstrasikan menghitung perkalian dengan menggunakan metode jarimatika. Peneliti menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang perkalian dengan menentukan kalimat Matematikanya kemudian menghitungnya dengan metode jarimatika. peneliti membagi siswa dalam kelompok dan masing-masing kelompok terdiri atas 2 anak.
Pada awal kegiatan kerja kelompok, suasana kelas sudah kelihatan tenang setelah peneliti mempersilahkan setiap pasangan untuk memperagakan hasil jawabannya di depan teman-temannya dengan menggunakan jaritangan masing-masing. Berikut adalan gambaran kerja kelompok sampai pada memperagakannya.
Anak-anak sudah mulai mengerti dengan tugasnya, kelompoknya tetapa bu..., iya. Beberapa siswa berjalan mencari teman kelompoknya masing-masing,dengan langsung mengubah posisi tempat duduknya.Peneliti menginformasikan sudah sekarang kerjakan soalnya bersama kelompok masing-masing, nanti kalau sudah selesai maju secara bergantian dari perwakilan kelompok untuk mendemonstrasikan jawaban dari soal-soalkalian[6] Peneliti kembali membimbing siswa untuk menyimpulkan tentang apa yang telah mereka lakukan dan pelajari. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kemudian memberikan lembar evaluasi siklus II untuk dikerjakan secara individu. Peneliti menutup pembelajaran Matematika.
c.    Penilaian Hasil Tindakan siklus II
Penilaian tindakan ini meliputi hasil observasi aktivitas guru atau peneliti dan hasilobservasi aktivitas siswa, serta hasil tes akhir siklus I. Untuk lebih jelasnya hasil observasi aktivitas peneliti, hasil observasi aktivitas siswa, dan hasil tes akhir siklus II, dalam pembelajaran ini dideskripsikan sebagai berikut:1)        Aktivitas Peneliti Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus II.Aktivitas peneliti pada pelaksanaan siklusII berlangsung sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya, sebagian besar indikator kegiatan sudah tercapai dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti. Peneliti dapat membenahi kekurangan-kekurangan pada siklus I,  seperti lebih memberi kesempatan bertanya pada siswa, dapat menyimpulkan materi dengan baik.
Pengamat peneliti melakukan observasi sesuai dengan petunjuk pada lembar observasi, yaitu dengan menggunakan tanda (√) pada kolom yang disediakan. Hasil observasi yang dilakukan observer dianalisis dengan menggunakan pedoman penskoran. Data dari hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Skor yang diperoleh pada masing-masing aktivitas disebut dengan jumlah skor, sedangkan skor ideal masing-masing aktivitas disebut skor maksimal. Selanjutnya dihitung skor perolehan dengan cara membagi jumlah skor dengan skor maksimal dan dikalikan 100%. Berikut merupakan paparan data mengenai aktivitas peneliti dalam pembelajaran berdasarkan  hasil observasi.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode jarimatika pada siklus II, sebagian indikator pembelajaran telah tercapai. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi kegiatan peneliti dari semua observer terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer I terhadap aktivitas peneliti dalam melaksanakan pembelajaran pada tabel tersebut diatas, jumlah skor yang diperoleh adalah 60 dari skor maksimal 68. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
=
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa observasi terhadap aktivitas peneliti termasuk dalam kategori “sangat baik”. Hal ini menunjukkan taraf  keberhasilan peneliti selama pembelajaran berada dalam kategori “sangat baik” dan meningkat dari siklus I. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas peneliti sudah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
2)        Aktivitas Siswa Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus II
 Pada kegiatan pembelajaran siklus II, siswa terlibat cukup serius mengikuti kegiatan pembelajaran. Kondisi tersebut dapat dilihat pada lembar observasi aktivitas siswa yang diobservasi oleh teman sejawat sebagai pengamat I dan pengamat II. Hasil observasi aktivitas siswa dianalisis dengan menggunakan analisis data yang sama seperti analisis data hasil observasi aktivitas peneliti yaitu analisis persentase. Berikut ini adalah paparan data mengenai hasil pengamatan terhadap siswa.Hasil observasi yang dilakukan kedua pengamat terlihat bahwa siswa sangat tertarik belajar perkalian dengan menggunakan metode Jarimatika. Siswa terkesan dengan model pembelajaran pada siklus I, sehingga tanpa diminta membuka catatan materi sebelumnya, siswa sudah mempersiapkan buku di atas meja. Siswa sudah tidak terlihat bingung ketika diberi intruksi untuk mendemonstrasikan perkalian dengan metode jarimatika.
Berdasarkan hasil pengamatan observasi selama pembelajaran Operasi Hitung Perkalian dengan menggunakan metode Jarimatika pada siklus II, sebagian besar indikator pembelajaran sudah tercapai. Terlihat adanya peningkatan ketercapaian indikator dari siklus sebelumnya. Tercapainya indikator tersebut dapat dilihat dari analisis lembar observasi  kegiatan siswa dari semua observer yang terlibat selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ketercapaian indikator tersebut dapat dilihat pada tabel yang telah terlampir.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada tabel di atas, jumlah skor yang diperoleh adalah 61 dari skor maksimal 72. Dengan demikian persentase skor adalah:
Persentase nilai rata-rata (Y) =
==  85%
Hasil perhitungan persentase diatas menunjukkan bahwa aktivitas siswa termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Kegiatan yang dapat dilihat dalam  lembar observasi tersebut bukan berarti proses pembelajaran berjalan dengan baik, karena masih ada siswa yang belum melakukan aktivitas diatas. Hal yang belum dilakukan sepenuhnya adalah:
a)         Kurang tanggap dalam mengerjakan contoh soal yang diberikan
guru
b)         Kurangmemperhatikan kesimpulan hasil pembelajaran yang
 disampaikan oleh guru.
3)   Hasil tes akhir siklus II
Peneliti  menginginkan informasi tentang besarnya siswa yang tuntas dan tidak tuntas setelah pelaksanaan siklus II, maka data perolehan hasil belajar siswa harus dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran Matematika yang ditetapkan oleh MI Miftahul Huda tersebut. Jika KKM mata pelajaran Matematika sebesar 70, maka penyajian datanya adalah sebagaimana tabel berikut,
Tabel 4.3Data Frekuensi Hasil Evaluasi Matematika Setelah  Menggunakan Metode Jarimatika Pada Silkus II
No
Interval Skor
Frekuensi
Persentase
Predikat
1.
70 - 100
18
90
Tuntas
2.
0 - 67
2
10
Tidak Tuntas
Jumlah
20
100

 Dengan demikian diperoleh informasi bahwa ketuntasan siswa meningkat dari tes akhir siklus I. Siswa yang mendapat nilai ≥70 sebanyak 18 siswa dari 20 siswa, dengan demikian ketuntasan belajar setelah melaksanakan pembelajaran Jarimatikaadalah 90% yang berarti telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dan telah mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya.
Dari data di atas peneliti juga memerlukan informasi tentang rata-rata skor tes pada siklusII, untuk itu peneliti harus menjumlahkan seluruh skor tes para siswa selanjutnya membaginya dengan jumlah seluruh siswa. Sehingga diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklusII sebesar 85,80.
Data perbandingan frekuensi hasil tes evaluasi akhir siklus I dan siklus II berdasarkan hasil tes dapat dilihat pada tabel berikut,
Tabel 4.4Daftar Kesimpulan Per Aspek Penilaian Belajar Tiap Siklus
No
Aspek
Siklus
Keterangan
I
II
1.
Tuntas Belajar
14 (70%)
18 (90%)

2.
Tidak Tuntas Belajar
6 (30%)
2 (10%)
3.
Skor Rata-rata
78,20
85,80
 Berdasarkan tabel diatas, selanjutnya peneliti dapat menginformasikan hal-hal yang dirasakan penting untuk diungkapkan yaitu antara lain:
(a)    Ketuntasan belajar mengalami kenaikan pada siklus berikutnya, dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebanyak 4 siswa atau 28,57% (perhitungan berasal dari 4 siswa dibagi 14 siswa dikalikan 100%);
(b)   Skor tes rata-rata mengalami kenaikan pada siklus berikutnya, dari siklus I ke siklus II terjadi kenaikan sebesar 7,60 (dari perhitungan 85,80 – 78,20).
c.   RefleksiMenurut hasil observasi terhadap aktivitas peneliti dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas peneliti telah mencapai kriteria keberhasilan, yaitu 88%. Hal ini berarti bahwa kriteria keberhasilan aktivitas peneliti pada tindakan ini mencapai kriteria “sangat baik”. Sedangkan hasil observasi terhadap kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga mencapai keberhasilan, yaitu 85% yang berarti mencapai kriteria “sangat baik”. Dari hasil observasi tersebut, telah menampakkan hasil yang diharapkan dan meningkat dari tindakan sebelumnya.
Hasil tes akhir siklus II diketahui bahwa ketuntasan siswa meningkat dari tes akhir siklus I. Siswa yang mendapat nilai ≥70 sebanyak 18 siswa dari 20 siswa, dengan demikian ketuntasan belajar setelah melaksanakan pembelajaran Jarimatika adalah 90% dan diperoleh jumlah rata-rata skor tes siklus II sebesar 85,80, yang berarti telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dan telah mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya. Dengan persetujuan dua teman sejawat sebagai observer, kegiatan pembelajaran dihentikan.
B.       Temuan PenelitianBeberapa temuan penelitian yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, hasil observasi, dan hasil tes akhir setiap tindakan adalah sebagai berikut:
1.      Temuan pada siswa
a)      Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah memahami materi dengan baik, karena pembelajaran dilakukan dengan permainan memperagakan jari tangan masing-masing yang membuat siswa tidak tegang dalam memahami materi atau menghitung suatu perkalian.
b)      Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah dan cepatuntuk menghitung perkalian, karena cuma menggerakkan jari-jari tangannya yang sesuai dengan lambangnya secara beulang-ulang membuat siswa lebih mudah dalam mengingat konsep materi perkalian dan lebih cepat dalam menghitung perkalian.
c)      Membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa mau berusaha mendemonstrasikan dan mengerjakan soal yang mereka peroleh dengan cepat, dan antusias dalam memperagakannya.
2.      Temuan pada guru
a)      Guru selalu memberi motivasi kepada siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar matematika
b)      Guru dapat menguasai kelas dengan baik, hal ini terlihat ketika ada siswa yang kurang memperhatikan
c)      Guru dapat mengaitkan materi dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
   .
        C.    Temuan PenelitianBeberapa temuan penelitian yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, hasil observasi, dan hasil tes akhir setiap tindakan adalah sebagai berikut:
3.      Temuan pada siswa
d)     Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah memahami materi dengan baik, karena pembelajaran dilakukan dengan permainan memperagakan jari tangan masing-masing yang membuat siswa tidak tegang dalam memahami materi atau menghitung suatu perkalian.
e)      Pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika ini membantu siswa lebih mudah dan cepatuntuk menghitung perkalian, karena cumamenggerakkan jari-jari tangannya yang sesuai dengan lambangnyasecara beulang-ulang membuat siswa lebih mudah dalam mengingat konsep materi perkalian dan lebih cepat dalam menghitung perkalian.
f)       Membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa mau berusaha mendemonstrasikan dan mengerjakan soal yang mereka peroleh dengan cepat, dan antusias dalam memperagakannya.
4.      Temuan pada guru
d)     Guru selalu memberi motivasi kepada siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar matematika
e)      Guru dapat menguasai kelas dengan baik, hal ini terlihat ketika ada siswa yang kurang memperhatikan
f)       Guru dapat mengaitkan materi dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
     

[1] Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari selasa, Tanggal 5 Agustus 2014.
[2]Ibit
[3]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari Rabu, Tanggal 6 Agustus 2014.
[4]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari Rabu, Tanggal 7 Agustus 2014.
 [5]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari Senin, Tanggal 11 Agustus 2014.
  [6]Observasi kegiatan Inti pembelajaran oleh guru dan siswa, pada hari  Selasa, Tanggal 12 Agustus 2014.
 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar